Tadi sore aku diundang ke sekretariat WIHDAH—Persatuan Mahasiswi Indonesia di Mesir. Ada briefing untuk Debat calon Ketua WIHDAH besok. Kebetulan aku salah seorang Debatornya.
Tak kusangka, seorang adik tingkatku datang menyodorkan Jurnal Qathrunnada milik WIHDAH. “Kak, mohon dikritisi…” pintanya agak malu-malu. Akupun membuka-buka jurnal itu dan kemudian bertanya padanya, “Maksudnya aku diminta memberikan pandangan untuk Jurnal ini? Kalo gitu, aku pinjam dulu Jurnalnya ya…”
“Oh ngga Kak, bawa aja, itu memang sengaja ana siapkan buat antum. Ana ingin antum kritisi isi dan tampilan jurnal itu…” begitu kurang lebih jawabnya agak refleks.
Lalu tak disengaja, kamipun banyak bercerita, dia lalu bilang jika selama ini dia adalah pembaca setia blog-blogku meski tak pernah meninggalkan jejak. Dia bilang semacam belajar banyak dari tulisan-tulisanku, dia bilang banyak temukan inspirasi dari blog-blogku, bla bla bla...
Aku seketika jengah mendengar celoteh adik tingkatku yang rupanya adalah Pemimpin Redaksi jurnal Qathrunnada tadi. Kupikir semua itu terlalu berlebihan. Aku sama sekali belum maksimal dengan aktivitas blogging-ku selama ini. Tulisan-tulisanku pun masih banyak yang perlu di-improvisasi. Apalagi saat kuingat di tahun 2009 ini aku belum memosting apapun di blog Diary-ku yang notabene merupakan most-updated blog among my others blogs.
Memang Mates, belakangan ini aku seperti pelit sekali untuk mengalokasikan pikiranku ke hal-hal yang kurang terkait dengan proyek akademikku. Aku seperti tertuntut not to think too serious except all thing related to Law, Political or Diplomacy. Aku seperti sedang berada di puncak kekalutan bagaimana agar aku bisa benar-benar fokus pada hal-hal tersebut. Karena terlalu kalutnya, aku bahkan sempat terpikir untuk memangkas habis semua aktivitas yang tidak academic projects-oriented, termasuk diskusi Mizan yang begitu ekslusif itu!
Hanya nahasnya, ternyata sampai beberapa hari lalu aku kebanyakan cuma berkutat dengan kekalutanku. Aku seperti kelimpungan dengan banyak hal yang kutargetkan tanpa bisa benar-benar menyelesaikan semua target-target itu. Aku seringkali tertekan saat sedang menemukan mood untuk berdiam di depan notebook-ku sementara ada agenda di luar yang harus kupenuhi. Ingin rasanya memberontak. Ingin rasanya benar-benar bisa membangun my real solitude to be totally focused on my own projects.
Terus terang, ada banyak hal yang membuatku terobsesi sekaligus kerap tertekan sendiri belakangan ini, seperti agenda akademik baruku untuk menyelesaikan Diplome of political Science di Cairo University, Ketentuan-ketentuan pribadiku untuk me-review semua forum diskusi yang kuikuti di Cairo University, Membaca dan me-review buku-buku Hukum yang kemarin kubeli di indonesia, me-review diktat-diktat Hukumku di Azhar, dan juga menerapkan beberapa proyek yang diusulkan Pak Masbukhin saat di Deplu kemarin. Semua itu Mates, sungguh terasa sangat berat di tengah-tengah tuntutan aktivitas non-academic projects-oriented yang kebanyakan harus kulakoni in that such far Nasr City...
Tapi overall, aku bersyukur karena aku mulai lebih rileks dan terprogram beberapa waktu ini. Aku merasa mulai bisa meng-handle berbagai kelimpungan-kelimpungan itu. Dari My Man kuperoleh tips untuk bisa fokus menggarap satu tulisan di tengah tuntutan tulisan-tulisan yang lain, “terapkan tipsku biar tidak scattered-mind, itu semacam manajemen otak juga…” ujar My Man dengan charming-nya di percakapan kami. Lalu dari adik tingkatku itu, aku jadi semakin semangat untuk melakukan lebih banyak hal, termasuk semakin rutin merekam beragam hal di blog-blog tercintaku. Karena aku yakin, semakin baik manajemen konsentrasi yang kita bangun, akan semakin banyak juga target-target kita yang weldone.


