Sunday, December 28, 2008

Have an Improving Birthday, Hanara! ::

Dalam hitungan jam, usiaku akan genap 22 tahun. Dan Mates, sungguh tak ada yang lebih menggetarkanku di detik-detik ini selain perasaan bergemuruh bercampur was-was akan kelanjutan studiku di Azhar.

Tak mudah rupanya untuk beradaptasi kembali setelah relatif lama meninggalkan Cairo. Di rentang dua minggu sekembalinya aku dari Indonesia ini, beragam perasaan dan cobaan seolah menggoyahkan keteguhanku untuk senantiasa keeping survive hingga kelak memboyong gelar Lc dari Azhar.

Kembali menapakkan kaki ke ruas-ruas dinamika Cairo ini memang membuatku kembali dibayang-bayangi tragedi mengerikan 5 Juli lalu. Kutemukan diriku terjebak antara trauma dan was-was yang begitu menikam. Sungguh, dalam hal apapun aku belum pernah dihinggapi perasaan campur-aduk yang bisa jadi mendekati kepesimisan serupa ini. Betapa dalam lubang keterpurukan yang menjeratku, hingga beragam pengalaman luar-biasa yang kudapatkan selama kepulanganku ke Indonesia seolah belum cukup untuk kujadikan tangga keluar dari jurang keterpurukan ini.

Aku sebenarnya tak ingin menafsirkan complicated-nya perasaanku ini sebagai bentuk kepesimisan. Dan aku memang tidak akan pernah membiarkan diriku terjebak situasi pesimis dalam hal apapun. Tapi entahlah Mates, kenapa sehebat ini gemuruh ini menghantamku. Setiap hal dan person yang berbenang merah dengan Azhar, studi, dan riwayat pergerakan pro-akademik/spesialisasiku seolah menyisakan perasaan aneh yang membuatku selalu bergidik. Seperti saat berinteraksi kembali dengan kampus dan diktat Peradilan Administratif yang harus kuulang di termin ini, ataupun saat aku kontak dengan Pak Dubes dan beberapa motivator akademik/spesialisasiku, atau juga saat aku kontak kembali dengan rekan-rekan satu jurusan dan rekan-rekan Arus Kampus.

Sebelum tidur semalam, hanya mohonku agar aku diberi kekuatan untuk menyelesaikan studiku di Azhar yang memenuhi rongga lisan dan hatiku. Sungguh, aku ingin menjadi salah seorang alumni lembaga pendidikan Islam tertua ini. Aku ingin Azhar menjadi salah satu “level-normatif” dari riwayat akademikku. Aku ingin menyelesaikan dengan baik apa yang telah kumulai di Al-Azhar Asy-Syarif ini, meskipun aku seutuhnya sadar jika selama ini aku belum benar-benar berkomitmen memulainya.

Sebenarnya Mates, bukan substansi atau sistem perkuliahan Al-Azhar yang membuatku gundah seperti ini. Tapi sepenuhnya tentang was-wasku akan mampukah aku me-manage diriku sendiri untuk benar-benar menjadi santri Azhar yang baik ke depan, tidak seperti selama ini. Karena aku percaya, di Azhar memang berlaku kontrol “X” sekaligus “hukum kausalitas tersirat” yang begitu adil. Dalam artian, kesuksesan naik tingkat akan kita peroleh jika ada harga yang berani kita bayar untuk kesuksesan itu, usaha maupun doa. Dan dengan pengawasan kontrol “X” tadi, nilai kesuksesan naik tingkat itu sungguh akan begitu adil dan lurus-sebanding dengan harga yang berani kita bayar tersebut, tanpa sedikitpun yang terselewengkan. Di samping, aku juga begitu percaya jika segala proseslah yang kemudian akan menjadi akumulasi akhir di hari pemampangan hasil ujian, baik proses-proses yang “substantif” maupun yang “non-substantif”.

Jika aku review, meskipun naik tingkat dua kali berturut-turut di tingkat satu dan dua kemarin kuperoleh dengan perjuangan yang mungkin tak seberapa, tapi ada nilai perjuangan di sana, ada azzam kuat yang memimpin semua kelalaian-kelalaianku.

Di tingkat satu, aku belum punya bayangan dalam kualifikasi seperti apa Azhar akan menggolongkanku ke golongan mahasiswa-mahasiswanya yang naik tingkat. Karena untuk memprediksi nilai, sebagai mahasiswa baru aku tentu belum pernah mengetahui dalam kualifikasi jawaban ujian seperti apa, aku akan lulus dalam suatu mata kuliah. Jadi saat itu, aku sama sekali tidak tahu akan naik tingkat atau tidak karena belum punya standar prediksi.

Hanya saja, saat-saat menjelang diumumkannya hasil ujian, aku begitu ketakutan, terutama mengingat betapa akan down-nya aku jika harus tidak naik tingkat di tahun pertama dan betapa akan porak-porandanya cintaku yang sedang benar-benar meluap-luap terhadap jurusanku itu. Maka yang kulakukan saat itu, aku tak henti-hentinya berdoa dan minta didoakan. Dan ketika ada pengumuman hasil ujian, alhamdulillah aku naik tingkat meski dengan nilai pas-pasan. Dan dari sana jugalah aku kemudian mulai bisa membaca bagaimana ke depan aku harus menspekulasikan nilai-nilai ujianku sebagai prediksi pribadiku. Karena ternyata, nilai yang terpampang memang tak jauh berbeda dengan apa yang kita kerjakan di ruang ujian.

Lalu di tingkat dua, seperti yang pernah kuceritakan di postinganku lebih kurang setahun setengah silam, azzam yang kuat untuk bisa bahkan sekedar ikut ujianlah yang mungkin menjadi sumber taufiq-ku saat itu. Dengan beragam keadaan sulit karena kondisi kesehatan yang begitu tak bersahabat, aku tetap gigih ingin belajar. Dan alhamdulillah, di setiap mata kuliah aku seolah mendapat kemudahan dan petunjuk, baik saat belajar maupun saat menjawab soal ujian. Finally akupun naik tingkat, meski lagi-lagi dengan nilai yang pas-pasan.

Berbeda hal dengan tingkat tiga tahun lalu, di tingkat ini aku tidak terlalu fatal bermasalah dengan kesehatanku, aku pun sudah sangat paham dengan segala macam konsep prediksi, aku juga sudah sangat paham jika tingkat tiga adalah jenjang tersulit di jurusanku, aku juga tentu sudah sangat paham apa akibat mengerikan jika aku sampai tak naik tingkat. Tapi memang dasar aku yang bebal, aku yang belum mampu me-manage diriku sendiri untuk patuh pada skala prioritas, aku yang belum bisa mengalahkan kemalasan dan berbagai penyakit penghambat kesuksesan di malam-malam ujianku. Itu saja, itu saja alasan-alasan yang paling rasional kenapa di tingkat ini aku harus mengulang, bukan karena kesibukan organisasiku, atau juga karena kesibukan-kesibukanku untuk mengurus proses pendaftaran magang dan asrama di hari-hari ujian summer-ku termin lalu.

Semenjak di Cairo, aku memang temukan paradoks yang ironis dari diriku. Dalam banyak hal, aku kerap all-out untuk mengejar sesuatu yang benar-benar mengobsesiku, tapi sebaliknya, aku tak pernah temukan semangat all-out itu untuk mengejar prestasi akademikku di Azhar. Jika untuk benar-benar optimal mengejar keinginanku agar bisa magang di Deplu, aku sanggup sampai muntah-muntah di perjalanan ke Garden City, kenapa di tingkat tiga kemarin aku tak sanggup sampai muntah-muntah juga untuk mengejar hafalan Al-Quranku? Jika untuk menyelesaikan sebuah tulisan aku sanggup sampai tak tidur bermalam-malam, kenapa untuk membaca sebuah diktat kuliah aku bahkan tak bisa menjaga konsentrasiku hingga lebih dari satu jam? Betapa keterlaluannya perlakuanku terhadap institusi seluhur Azhar!

Sungguh Mates, terlalu banyak hal yang harus aku evaluasi dan benahi di setengah perjalanan akademikku di Azhar ini. Terlalu kuat musuh yang harus kutaklukan untuk mengubah segala kecendrungan negatifku selama ini. Ratapan kegagalan selamanya akan berwujud kegagalan jika aku tak benar-benar mulai bangkit dan berbenah. Hikmah segala kegagalan tak akan tampak sebagai hikmah yang bermakna jika tak kusertai dengan langkah-langkah perbaikan.

Dalam hitungan jam, usiaku akan genap 22 tahun. Dan dalam waktu yang sama, aku harus segera menyadari bahwa terlalu banyak agenda-agenda besar yang akan tertunda jika aku tetap kompromis dan permisif dengan kecendrungan-kecendrungan negatifku selama ini. Aku harus benar-benar bangkit dan berbenah. Tak ada waktu sama sekali untuk tidak berserius di usia setua ini.

Monday, December 22, 2008

A Story for You, Mom... ::

Mom, it’s your day,
as happening last year, as happening many years lasted
And as I always do every year Mom,
today I send you my entire love, my ever wishes, my sincere pray
Hope you are smiling there,
in that untouched world, in that very far paradise…

But Mom, today I can’t give you any gift
I just want to share you something I wish I could share it eye to eye to you
It is a story Mom, a very private story…

Today Mom, in this your special day,
I don’t know how come I find myself-
thinking nothing except him, missing nothing except him…

He is the man I hope I will be with him-
during my both next life and next death
He is my paradise man where I wish I will find my whole life in his eyes
He is my entire power sources where without him I will find myself falling in a deep hollow season

Mom, we just could meet several months ago after a year recognizing each other
Then now Mom, we should face this long distance again-
to finish our each duty and dream before we could meet again later…

O Mom, It’s a kind of cruel condition when I’m missing him such way
It’s a kind of hard thing to have this long distance love
What a meaningful his existence to me is

Overall Mom, I wish someday I could proudly present him to you in that untouched world
He is the man where your love and existence I find in his whole heart and treatments
He is my ever paradise man…

Wednesday, December 17, 2008

Some Mixed Stories ::

Yep, here I’m in Dubai, Mates. Waiting for my next boarding to continue my flight to Egypt. Ya ya ya, you are rite, finally I’m going back, even so hard, even so cruel… Hu huu huuu…:(

Hmm, sekian lama tidak blogging, so disappointed sebenarnya, padahal banyak sekali hal-hal valuable dan impresif yang kualamai beberapa pekan terakhir.

Well, tapi tak apa, aku coba ceritakan semuanya di sini sekarang. Tapi jangan pernah komplain jika caraku bercerita akan kurang memuaskan. Aku kelelahan, Mates. Belakangan banyak sekali trip-trip melelahkan yang kulewati. Maka cukup maklumi dengan membaca postingan ini sembari membayangkan seorang Hanara yang pucat menggigil, tergeletak asing di tengah-tengah glamour airport of Dubai, tertunduk-tunduk antara mengantuk dan khusyuk posting… :D

Jadi begini, Mates. Kepulangan ke Cairo ini menjadi agak mellow dan melelahkan karena pertama, kepulangan ini harus ditandai dengan perpisahan dengan my beloved ones, so jangan tanya, betapa sulitnya menata perasaan saat harus merenda jarak teritori kembali setelah lima bulan bersama-sama. Ya, betapapun, betapapun di rentang kebersamaan itu banyak sekali lika-likunya. Tetap saja, detik-detik saat jarak benar-benar telah di depan mata, akan sangat terasa jika kebersamaan itu memang mahal. Mahal sekali.

Dan kedua Mates, aku menjadi kelelahan dalam proses check in kemarin karena bawaanku overweight. Jadi terpaksa, aku re-packing agar barang-barang yang benar-benar prioritas yang terbawa. Akhirnya, beberapa buku berikut beberapa barang lainnya dengan berat hati tak bisa kubawa serta. (Duh, udik bener, pake overweight-overweight-an segala :D)

Masalah overweight ini sebenarnya sudah kuduga akan terjadi. Karena beberapa hal teknis, aku tidak punya banyak waktu untuk packing dan mensiasati bagaimana agar barang-barang yang seabrek itu bisa terbawa semua. Klimaksnya, ya begitu, sebelum boarding, aku harus terengah-engah ke sana-ke mari, bukan justeru khusyuk menjalani ceremony perpisahanku…

Belum lagi sebelum kepulangan ini, aku juga… (Stopped)

Yah! Ternyata postinganku tak selesai, Mates. Terpaksa cerita ini kemarin terputus, karena batre notebookku tak bisa diharapkan saat transit di Dubai kemarin, jadi pagi ini, 21 Desember 2008, tepat jam 06.32, aku baru punya cukup konsentrasi untuk melanjutkannya. Karena sesampainya di Cairo, perasaanku masih sangat campur-aduk, di samping pekat digelayuti kesedihan karena harus berjarak kembali dari my beloved ones dan segenap tanah air, aku juga benar-benar berjuang menata perasaan untuk bisa standing as I was in Cairo...

Saat tiba di bandara internasional Cairo aku terpaku. Langkah serasa menjadi berat, aku tiba-tiba menjadi begitu sensitif dengan beragam prilaku kasar orang Mesir di sana. Padahal, jelas selama tiga tahun di Cairo, aku sudah sangat terbiasa dengan semua itu. Hmm, aku mulai merasa kurang betah di Cairo

Perasaanku semakin galau saat teringat setelah dari bandara ini, aku akan langsung mengambil barang-barangku di flat tempat tinggalku sebelumnya untuk langsung pindahan ke asrama. Betapa akan melelahkannya...

Tapi aku sedikit terhibur ketika aku melihat Elman dan Andi--teman baikku, menyongsongku di pintu keluar, ada juga K’Sane, seniorku di Syari’ah wal Qanun sekaligus roomate-ku di asramaku yang baru, dan juga Agus, teman baiknya Elman dan Andi yang berbaik hati membawakan mobil sewaan kami.

Kami pun segera pindahan, dan jadilah malam itu sampai beberapa hari setelah itu badanku remuk redam lahir-batin karena harus segera menyelesaikan banyak hal-hal teknis administratif pasca kepulangan di beberapa tempat di Nasr City yang cukup jauh jaraknya dari asramaku yang sekarang. Semua itu kulakoni tanpa sempat meredakan perasaanku yang belum sepenuhnya pulih dan kerasan... Kejam!

Nah, sekarang aku lanjutkan ceritaku yang terpotong saat transit di Dubai itu ya. Jadi Mates, sebelum tanggal kembalinya ke Cairo itu, aku memang ke sana ke mari menyelesaikan beberapa agenda dan urusan. Di LIP, ujiaanku dipercepat karena harus segera ke Jakarta. Di Jakarta pun, aku harus terengah-engah untuk berpamitan ke keluarga-keluargaku dan beberapa teman yang tempatnya rata-rata saling berjauhan. Ditambah juga ada beberapa urusan administratif di Deplu yang harus kuselesaikan. Klimaksnya, hingga beberapa jam sebelum ke bandara, aku baru start packing. Benar-benar did’t make sense!

Yah begitulah, begitulah cerita-cerita perpisahanku yang relatif tragis karena serba kesusu. Kuingat pas tanggal 10 Desember lalu, aku benar-benar terpukul saat sedikit demi sedikit fisikku menjauh dari Timur dan Tengah Jawa. Sidoarjo, Ponorogo, Semarang, Solo--beberapa kota yang sempat kukunjungi saat aku residen dua bulan di Jogja. Di kota-kota itu terukir jejak-jejak kenangan tak terlupakan, baik bersama My Man, bersama rekan-rekan se-aktivitas, maupun bersama teman-teman dan guru-guruku yang sempat kutemui di Ngabar. Belum lagi segenap kenangan saat di Jogja. Sungguh, meskipun Jogja bukan miliu primerku, aku benar-benar merasakan keintiman yang sangat di sana. Keramahan warganya, murah-meriahnya sandang-pangan-bukunya, kentalnya suasana pelajarnya, eksotiknya budayanya, hmm, semua itu benar-benar membuatku enggan sekali meninggalkan Jogja. Rasanya ingin sekali terus tinggal di kos-ku di Sagan sambil belajar tekun di LIP. Duh, tambah sedih juga ingat kemaren aku sangat tidak optimal saat belajar di LIP karena harus beberapa kali ke luar kota

Oh iya, dari kemaren juga ingin sekali cerita tentang LIP dan posting foto-foto di sana. Tapi sampai sekarang belum kesampaian… Sungguh Mates, aku sedih sekali karena tak bisa optimal di LIP itu, padahal aku suka sekali suasana di sana. Belajar bahasa di LIP mengingatkanku saat belajar bahasa Inggris di Ranau English College dulu. Metode pembelajarannya benar-benar merangsang kemampuan speaking kita… Nanti setelah postingan ini, akan kuposting juga foto-foto LIP-nya ya…

Dan satu hal yang terakhir Mates, tanggal 11 Desember pagi, aku tersentak saat bus yang kutumpangi dari Jogja tiba-tiba telah sampai di daerah Slipi. Kembali menginjakkan kaki di Jakarta membuatku seketika gerah dan merasa telah sekian lama tertidur. Jakarta memang selalu memacu adrenalinku untuk sigap berlari. Di sinilah kemudian kutemukan paradoks yang aneh: Rasanya baru saja kemarin sore aku berderai air-mata karena harus meninggalkan Jogja yang kucintai itu, tapi pagi-paginya, aku justeru merasa jika ritme Jogja terlalu soft bagiku, orang dengan karakter sepertiku kupikir memang cocok berada di medan yang garang seperti Jakarta ini. Dan aku memang mencintai Jakarta, dengan segenap kepenatannya yang menantang, dengan segenap dinamikanya yang penuh lonjakan.