Tuesday, September 02, 2008

See Ya, Deplu... ::

Sebenarnya masa internship-ku di Deplu berakhir tanggal 29 Jumat kemarin. Tapi sampai hari ini aku masih harus menyelesaikan beberapa instruksi dari Pak Sakidin terkait kelengkapan administratif Jurnal Luar Negeri. Instruksi ini sebenarnya telah diberikan sejak tiga minggu lalu, tapi kesulitan pengumpulan data dan beberapa rutinitas pasca pindahnya lokal internship-ku di Direktorat Hukum, sedikit banyak membuat pekerjaan ini tertunda.

Semalam, sepulangnya dari jam magang, aku segera packing untuk meninggalkan kost-an yang sebulan ini telah banyak menorehkan kenangan. Berat sebenarnya, karena selama sebulan ini, Pejambon telah menyisakan romantika tersendiri bagiku. Ada gurat-gurat keoptimasan yang diam-diam kuhayati dari keseharianku di sana. Ada juga kenyaman motivatif yang benar-benar kunikmati dari tiap rutinitas yang kulakoni di sana. Sosok-sosok yang kutemui pun begitu mengesankan. Tante Dolly sekeluarga, sang empunya kost-an yang ramah, Mb'Lia dan Jule, teman-teman kost-ku yang baik hati, Rumah Makan Semarang yang murah meriah, Tukang Roti yang tak kutemukan lagi jejaknya sampai sekarang... Hmm, betapa aku secepat itu merasakan keintiman dengan semua itu...

Dan sobat, jangan tanya betapa beratnya juga ketika aku harus menyadari kalau masa internship-ku di Deplu ini telah berakhir. Sungguh, terlalu banyak lonjakan luar biasa yang kutemukan di sini. Terlalu banyak keoptimisan-keoptimisan yang sedemikian kuat membangunkanku dari keterpurukanku karena tragedi 5 Juli lalu. Terlalu banyak modal yang kudapat untuk meneruskan rangkaian ikhtiarku ke depan.

Gerimis rasanya saat aku harus berpamitan satu-persatu dengan Diplomat-diplomat yang santun di HPI. Meski hanya sepuluh hari involved di sana, telalu banyak yang aku hayati dan pelajari dari beliau-beliau. Pak Eddy, Sang Direktur Hukum yang begitu mengayomi dan lebih banyak menghabiskan jam kerjanya di ruangan staf beliau agar bisa memantau dan membimbing langsung pekerjaan para staf-staf beliau. Pak Jati, Pak Mandala dan Pak Buki, para Kabag yang juga tak kalah cekatan dengan sang atasan. Lalu Pak Masbukhin, sosok Azharian yang bagiku begitu inspiratif, beliau telah banyak membimbing dan membuka paradigmaku. Lalu Pak Klemen, sang diplomat muda yang selalu tampil necis dan ramah. Juga Mb' Evita dan Mb' Ari, diplomat-diplomat perempuan yang enerjik namun tetap girly. Juga Pak Haryo yang dijuluki Prof. Haryo karena sosoknya benar-benar seperti ensiklopedi berjalan. Dan tak ketinggalan Pak Koko, Pak Acep dan Bapak-bapak serta Ibu-ibu yang lainnya.

Perasaan yang sama juga kurasakan saat aku terkenang masa-masa di BPPK. Dalam beragam perasaan, aku tetap tak henti-hentinya bersyukur bisa internship di sana. Perkenalan dengan Pak Sakidin yang begitu banyak memberikan lampu hijau selama proses magangku. Beliau bagiku, bukan hanya sebagai sang pemberi lampu hijau, tapi juga sosok yang telah banyak membimbing, memotivasi dan menginspirasi. Sungguh, tanpa beliau, mungkin tak akan sebanyak ini manfaat internship dan peluang penjajakan yang bisa kuoptimalkan. Lalu juga Pak Wahyu, PJ Magang BPPK yang baik hati dan kerap kocak, aku sungguh berterima kasih banyak atas bimbingan dan inspirasi dari beliau. Juga Bu Endang, Kabag Umum Sekretariat BPPK yang banyak menginspirasi dan mengayomi. Pak Yadi, Pak Sulaiman, Pak Daryoto, Pak Pane, Bu Susan, Mb' Lena, Bu Sum dan Bapak-bapak serta Ibu-ibu yang lain yang "berseliweran" memberikan bimbingan dan pelajaran selama jam-jam magangku.

Terakhir, aku juga tak kalah gerimis saat ingat hari-hariku bersama teman-temanku peserta magang yang lain. Fredy dan Soter, teman-temanku dari Papua. Eri dan Nani dari Unibraw. Krista, Novi, Abel, Duo-Dika dan Reni dari UI. Tiva dan Nimas dari UMY. Sungguh, tanpa kalian tak akan seramai ini jam-jam magang kita. Ingatlah sobat-sobatku, aku pernah merasakan kesepian itu saat pertama kali harus pindah ke HPI dan berjarak dengan kalian. Aku sungguh sayang kalian.

Overall, mudah-mudahan beratnya perasaan untuk mengakhiri masa magang ini menjadi pertanda baik. Mudah-mudahan kelak aku benar-benar bisa menyonsong mimpi lama itu di ruas-ruas Pejambon yang rindang... Mudah-mudahan.

2 comments:

Ancilla said...

ooo itu toh salah satu mimpimu.. hohoho...

selamat berpuasaaaaaaaaaaa...

Kampung Sunyi said...

Salam kenal...

Konon, hidup ini selalu punya prosedur, dan salah satunya adalah berpisah. Begitu yang pernah kudengar dari angin. Berpisah adalah prosedur untuk mengukur kematangan langkah kehidupan kita. Betapapun cintanya kita pada sesuatu, betatpun gerimisnya hati kita untuk meninggalkannya, waktu tetap menjadi jawaban paling jujur, bahwa seujung kukupun kita tak mampu mengelak dari sebuah perubahan (dalam hal ini berpisah).

Tentang mimpi, saya sepakat bahwa ia adalah obsesi atau thumuhat. Maka kenapa kita harus merasa takut bermimpi, padahal hari tidak selamanya malam bukan? Hahaha... ngomongnya kok ngelantur yoo..