Wednesday, June 18, 2008

Mengenal Indonesia Lewat Pramoedya ::

Judul Buku: Tetralogi Buru
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Hasta Mitra
Cetakan: III, 2001
Tebal: 4 seri
Peresensi: Desi Hanara

Entah telah ke sekian berapa saya terpaku di depan monitor kebingungan. Kebingungan bagaimana harus melukiskan perasaan saya terhadap roman Tetralogi Buru-nya Pramoedya Ananta Toer.

Di imajinasi saya, ada sederet buncahan impresi yang berdesakan. Yang menuntut untuk dituliskan sebagai representasi “sebenar” impresi saya terhadap karya fenomenal Pram ini. Yang senantiasa mengakumulasi menjadi kagum dan haru luar biasa atas dedikasi besar Pram terhadap Indonesia.

Di tanah air, adakah tetralogi yang mampu menyaingi muatan sejarah sekental Tetralogi Buru ini? Adakah penulis yang bisa menyaingi besarnya nasionalisme Pram sebagai penulis yang benar-benar “penulis”?

Saya sungguh merasa menemukan kembali semangat saya sebagai orang Indonesia saat selesai membaca seri pertama Tetralogi Buru ini setahun yang lalu. Pram tak hanya membangkitkan kecintaan meluap-luap terhadap Indonesia, tapi juga mengajarkan bagaimana memandang Indonesia dengan sudut pandang kritis dan realistis. Pram tak hanya merekam segala ironi yang menyesakkan dari babak cikal-bakal perjalanan Indonesia di awal abad ke-20, tapi juga berhasil membius kita untuk seolah berada di tengah-tengah babak yang jarang terjamah oleh kesusastraan Indonesia itu.

Seperti yang tercantum di halaman depan beberapa seri tetralogi ini, bisa disimpulkan bahwa di seri pertamanya, “Bumi Manusia”, kita akan diajak Pram menelusuri masa-masa periode Kebangkitan Nasional antara tahun 1898-1918, yakni masa-masa awal masuknya rasio, awal pertumbuhan organisasi-organisasi modern yang juga berarti awal kelahiran demokrasi pola Revolusi Prancis.

Lalu di seri keduanya, “Anak Semua Bangsa”, Pram mengisahkan pengenalan Minke, sang tokoh, pada lingkungannya sendiri dan dunia, sejauh pikirannya dapat menjangkaunya.

Kemudian di seri ketiganya, “Jejak Langkah”, Pram berkisah tentang kelahiran organisasi-organisasi modern Pribumi pertama-tama.

Dan di seri terakhir, “Rumah Kaca”, Pram mengisahkan usaha Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda dalam membuat Hindia menjadi rumah kaca, di mana setiap gerak-gerik penduduk di dalamnya dapat mereka lihat dengan jelas, dan dengan hak exorbitant, mereka dapat berbuat sekehendak hatinya terhadap para penghuni dalam rumah itu.

Tetralogi yang setiap serinya bisa dibaca independen ini, ditulis Pram saat ia ditahan di pulau Buru. Sebelum tetralogi ini tertuang dalam bentuk tulisan, kisahnya diceritakan secara lisan oleh Pram kepada teman-teman tahanan lainnya di pulau Buru.

Tetralogi ini juga pernah dilarang peredarannya oleh pemerintah Indonesia, dengan dalih bahwa karya-karya Pram mengandung pesan Marxisme-Leninisme yang dianggap tersirat dalam kisah-kisahnya.

Betapapun demikian, Tetralogi Buru, dengan proses kemunculannya yang panjang, pahit dan berliku itu, benar-benar merupakan referensi tentang Indonesia yang penting. Tetralogi ini memaparkan sejarah Indonesia dengan caranya sendiri. Tetralogi ini meng-ekspose yang dilupakan dan yang terlupakan.

0 comments: