Dalam hitungan jam, usiaku akan genap 22 tahun. Dan Mates, sungguh tak ada yang lebih menggetarkanku di detik-detik ini selain perasaan bergemuruh bercampur was-was akan kelanjutan studiku di Azhar.
Tak mudah rupanya untuk beradaptasi kembali setelah relatif lama meninggalkan Cairo. Di rentang dua minggu sekembalinya aku dari Indonesia ini, beragam perasaan dan cobaan seolah menggoyahkan keteguhanku untuk senantiasa keeping survive hingga kelak memboyong gelar Lc dari Azhar.
Kembali menapakkan kaki ke ruas-ruas dinamika Cairo ini memang membuatku kembali dibayang-bayangi tragedi mengerikan 5 Juli lalu. Kutemukan diriku terjebak antara trauma dan was-was yang begitu menikam. Sungguh, dalam hal apapun aku belum pernah dihinggapi perasaan campur-aduk yang bisa jadi mendekati kepesimisan serupa ini. Betapa dalam lubang keterpurukan yang menjeratku, hingga beragam pengalaman luar-biasa yang kudapatkan selama kepulanganku ke Indonesia seolah belum cukup untuk kujadikan tangga keluar dari jurang keterpurukan ini.
Aku sebenarnya tak ingin menafsirkan complicated-nya perasaanku ini sebagai bentuk kepesimisan. Dan aku memang tidak akan pernah membiarkan diriku terjebak situasi pesimis dalam hal apapun. Tapi entahlah Mates, kenapa sehebat ini gemuruh ini menghantamku. Setiap hal dan person yang berbenang merah dengan Azhar, studi, dan riwayat pergerakan pro-akademik/spesialisasiku seolah menyisakan perasaan aneh yang membuatku selalu bergidik. Seperti saat berinteraksi kembali dengan kampus dan diktat Peradilan Administratif yang harus kuulang di termin ini, ataupun saat aku kontak dengan Pak Dubes dan beberapa motivator akademik/spesialisasiku, atau juga saat aku kontak kembali dengan rekan-rekan satu jurusan dan rekan-rekan Arus Kampus.
Sebelum tidur semalam, hanya mohonku agar aku diberi kekuatan untuk menyelesaikan studiku di Azhar yang memenuhi rongga lisan dan hatiku. Sungguh, aku ingin menjadi salah seorang alumni lembaga pendidikan Islam tertua ini. Aku ingin Azhar menjadi salah satu “level-normatif” dari riwayat akademikku. Aku ingin menyelesaikan dengan baik apa yang telah kumulai di Al-Azhar Asy-Syarif ini, meskipun aku seutuhnya sadar jika selama ini aku belum benar-benar berkomitmen memulainya.
Sebenarnya Mates, bukan substansi atau sistem perkuliahan Al-Azhar yang membuatku gundah seperti ini. Tapi sepenuhnya tentang was-wasku akan mampukah aku me-manage diriku sendiri untuk benar-benar menjadi santri Azhar yang baik ke depan, tidak seperti selama ini. Karena aku percaya, di Azhar memang berlaku kontrol “X” sekaligus “hukum kausalitas tersirat” yang begitu adil. Dalam artian, kesuksesan naik tingkat akan kita peroleh jika ada harga yang berani kita bayar untuk kesuksesan itu, usaha maupun doa. Dan dengan pengawasan kontrol “X” tadi, nilai kesuksesan naik tingkat itu sungguh akan begitu adil dan lurus-sebanding dengan harga yang berani kita bayar tersebut, tanpa sedikitpun yang terselewengkan. Di samping, aku juga begitu percaya jika segala proseslah yang kemudian akan menjadi akumulasi akhir di hari pemampangan hasil ujian, baik proses-proses yang “substantif” maupun yang “non-substantif”.
Jika aku review, meskipun naik tingkat dua kali berturut-turut di tingkat satu dan dua kemarin kuperoleh dengan perjuangan yang mungkin tak seberapa, tapi ada nilai perjuangan di sana, ada azzam kuat yang memimpin semua kelalaian-kelalaianku.
Di tingkat satu, aku belum punya bayangan dalam kualifikasi seperti apa Azhar akan menggolongkanku ke golongan mahasiswa-mahasiswanya yang naik tingkat. Karena untuk memprediksi nilai, sebagai mahasiswa baru aku tentu belum pernah mengetahui dalam kualifikasi jawaban ujian seperti apa, aku akan lulus dalam suatu mata kuliah. Jadi saat itu, aku sama sekali tidak tahu akan naik tingkat atau tidak karena belum punya standar prediksi.
Hanya saja, saat-saat menjelang diumumkannya hasil ujian, aku begitu ketakutan, terutama mengingat betapa akan down-nya aku jika harus tidak naik tingkat di tahun pertama dan betapa akan porak-porandanya cintaku yang sedang benar-benar meluap-luap terhadap jurusanku itu. Maka yang kulakukan saat itu, aku tak henti-hentinya berdoa dan minta didoakan. Dan ketika ada pengumuman hasil ujian, alhamdulillah aku naik tingkat meski dengan nilai pas-pasan. Dan dari sana jugalah aku kemudian mulai bisa membaca bagaimana ke depan aku harus menspekulasikan nilai-nilai ujianku sebagai prediksi pribadiku. Karena ternyata, nilai yang terpampang memang tak jauh berbeda dengan apa yang kita kerjakan di ruang ujian.
Lalu di tingkat dua, seperti yang pernah kuceritakan di postinganku lebih kurang setahun setengah silam, azzam yang kuat untuk bisa bahkan sekedar ikut ujianlah yang mungkin menjadi sumber taufiq-ku saat itu. Dengan beragam keadaan sulit karena kondisi kesehatan yang begitu tak bersahabat, aku tetap gigih ingin belajar. Dan alhamdulillah, di setiap mata kuliah aku seolah mendapat kemudahan dan petunjuk, baik saat belajar maupun saat menjawab soal ujian. Finally akupun naik tingkat, meski lagi-lagi dengan nilai yang pas-pasan.
Berbeda hal dengan tingkat tiga tahun lalu, di tingkat ini aku tidak terlalu fatal bermasalah dengan kesehatanku, aku pun sudah sangat paham dengan segala macam konsep prediksi, aku juga sudah sangat paham jika tingkat tiga adalah jenjang tersulit di jurusanku, aku juga tentu sudah sangat paham apa akibat mengerikan jika aku sampai tak naik tingkat. Tapi memang dasar aku yang bebal, aku yang belum mampu me-manage diriku sendiri untuk patuh pada skala prioritas, aku yang belum bisa mengalahkan kemalasan dan berbagai penyakit penghambat kesuksesan di malam-malam ujianku. Itu saja, itu saja alasan-alasan yang paling rasional kenapa di tingkat ini aku harus mengulang, bukan karena kesibukan organisasiku, atau juga karena kesibukan-kesibukanku untuk mengurus proses pendaftaran magang dan asrama di hari-hari ujian summer-ku termin lalu.
Semenjak di Cairo, aku memang temukan paradoks yang ironis dari diriku. Dalam banyak hal, aku kerap all-out untuk mengejar sesuatu yang benar-benar mengobsesiku, tapi sebaliknya, aku tak pernah temukan semangat all-out itu untuk mengejar prestasi akademikku di Azhar. Jika untuk benar-benar optimal mengejar keinginanku agar bisa magang di Deplu, aku sanggup sampai muntah-muntah di perjalanan ke Garden City, kenapa di tingkat tiga kemarin aku tak sanggup sampai muntah-muntah juga untuk mengejar hafalan Al-Quranku? Jika untuk menyelesaikan sebuah tulisan aku sanggup sampai tak tidur bermalam-malam, kenapa untuk membaca sebuah diktat kuliah aku bahkan tak bisa menjaga konsentrasiku hingga lebih dari satu jam? Betapa keterlaluannya perlakuanku terhadap institusi seluhur Azhar!
Sungguh Mates, terlalu banyak hal yang harus aku evaluasi dan benahi di setengah perjalanan akademikku di Azhar ini. Terlalu kuat musuh yang harus kutaklukan untuk mengubah segala kecendrungan negatifku selama ini. Ratapan kegagalan selamanya akan berwujud kegagalan jika aku tak benar-benar mulai bangkit dan berbenah. Hikmah segala kegagalan tak akan tampak sebagai hikmah yang bermakna jika tak kusertai dengan langkah-langkah perbaikan.
Dalam hitungan jam, usiaku akan genap 22 tahun. Dan dalam waktu yang sama, aku harus segera menyadari bahwa terlalu banyak agenda-agenda besar yang akan tertunda jika aku tetap kompromis dan permisif dengan kecendrungan-kecendrungan negatifku selama ini. Aku harus benar-benar bangkit dan berbenah. Tak ada waktu sama sekali untuk tidak berserius di usia setua ini.