Friday, September 04, 2009

Trans7’s Lessons Learned ::

Beberapa waktu lalu, aku dimintai kesediaan untuk diwawancarai Trans7 terkait nuansa Ramadhan di Mesir. Saat itu aku langsung meng-confirm-nya karena kupikir aku hanya akan dijadikan semacam nara sumber saja.

Lalu beberapa hari kemudian, aku dikontak lagi dan langsung berkomunikasi dengan salah seorang wartawannya, Bang Selo Ruwandanu. Di sana aku baru sedikit mengerti jika aku dipilih untuk merepresentasikan mahasiswi Indonesia Mesir sekaligus merepresentasikan kalangan pegiat intelektual-akademik dari komunitas mahasiswa Indonesia di Mesir sini. Karena dari kalangan mahasiswa, yang dipilih adalah sosok yang merepresentasikan kalangan yang concern di bidang lain. Lalu aku pun sepakat bertemu esok harinya di Perpustakaan Al-Azhar untuk beberapa briefing dan kemudian akan langsung diwawancarai, seperti yang disebutkan sendiri oleh Bang Selo.

Ketika sampai di Perpustakaan Al-Azhar, aku pun berkenalan langsung dengan Bang Selo dan Bang Bayu, dua orang wartawan Trans7 yang kemudian baru kuketahui jika beliau berdua adalah tim liputan film dokumenter ASAL-USUL di Trans7, dan aku pun baru kemudian mendapatkan penjelasan jika ternyata aku di sini bukan akan diwawancarai, tapi lebih tepatnya akan di-audio-visualkan untuk salah satu babak di film dokumenter tersebut.

Saat itu aku antusias dan merasa mendapatkan kehormatan, sebab ini kupikir sangat positif dan sejalan dengan apa-apa yang menjadi concern-ku selama ini. Karena disebutkan jika yang akan di-expose adalah keseharianku plus aktivitas-aktivitasku di forum-forum Al-Azhar dan Cairo University, serta juga aktivitas dan rutinitasku di lingkungan keorganisasian Mahasiswa Indonesia Mesir.

Bang Selo pun lalu meminta deskripsi detail dari keseharianku dan aktivitas-aktivitas yang menghegemoni serta menonjol dariku, dan menjanjikan akan memberikan notifikasi lebih lanjutnya setelah itu.

Lalu malamnya, aku ditelpon oleh Bang Bayu. Di sana Bang Bayu kemudian menyampaikan bahwa setelah mempelajari aktivitasku yang banyak meniscayakan personalisasi di tempat-tempat yang membutuhkan birokrasi panjang, dan setelah beberapa hari bersentuhan langsung dengan realita birokrasi di Mesir yang terbukti sangat berbelit, serta juga mengingat segala keterbatasan waktu dari pihak Trans7 sendiri, beliau kemudian menyampaikan bahwa dengan sangat menyesal pihak mereka meng-cansel permintaan pihak mereka untuk menggarap personalisasi sosok dan aktivitasku dalam bagian film dokumenter tersebut.

Dan aku sepenuhnya langsung mengerti dengan kendala-kendala tersebut, serta juga sama sekali tidak menyesalkannya. Memang sangat tidak mungkin dengan waktu sesingkat ini dan di tengah banyaknya target pihak Trans7 yang lebih mendesak dan prioritas, personalisasi sosok dan aktivitasku itu akan tergarap.

Hanya aku langsung tercenung panjang saat itu. Aku refleks teringat film-film yang tergarap dari novel-novel fenomenal yang kerap “gagal” meng-cover dan menyajikan kekhasan dan khazanah novel-novel tersebut dalam bentuk audio- visualnya. Di sini aku mulai mengerti jika tuntutan pasar yang cenderung “nge-pop” dan realita bahwa tidak semua hal bisa di-audio-visualkan dengan sense serupa aslinya, bukanlah alasan mutlak pereduksian substansi novel-novel tersebut ke dalam format yang cenderung berlama-lama di hal-hal yang tidak substantif dan “nge-pop”, tapi juga realita teknis lain yang memang terbukti banyak menghambat dan memberatkan, seperti halnya masalah kegagalan pengambilan setting yang seharusnya sesuai dengan skenario aslinya.

Ayat-ayat Cinta misalkan, terlalu banyak hal-hal yang tereduksi dari substansi inti novelnya ketika kita menikmati dan menyaksikannya di format audio-visualnya. Menurutku, di samping hal-hal lain, setting film yang “terpaksa” bukan di tempat setting sebenar dari novelnya telah sangat mempengaruhi pereduksian banyak ruh dan sense yang sebenarnya bisa dirasakan dengan sempurna ketika ia diaudio-visualkan sesuai setting aslinya.

Lebih jauh, aku juga semakin tercenung mengingat-ingat minimnya penayangan film dokumenter yang bernuansa “biografis” di stasiun-stasiun televisi kita. Padahal, film-film seperti ini tentu akan sangat mendidik dan inspirasional bagi masyarakat kita dengan lebih tajam dan mengena, karena ia akan membius dan menginspirasi pemirsanya dengan totalitas personalisasi karakter dan spesialisasi aktornya. Hal ini begitu kurasakan ketika menonton film dokumenter Derrida beberapa bulan lalu, meski aku bukan orang yang concern di bidang Filsafat, tapi aku sedemikian tersentuh menonton mozaik-mozaik yang menggambarkan keseharian dan aktivitas intelektual Derrida yang sedemikian menunjukkan penjiwaan dan concern-nya terhadap Filsafat. Lalu bayangkan jika yang kutonton adalah film dokumenter Condoleezza Rice atau Ali Alatas, tentu aku akan jauh lebih terinspirasi dan menggelegak setelah menontonnya : )

Tapi lagi-lagi, semua itu memang akan selalu kembali kepada diskursus antara idealisme media, tuntutan pasar, dan realita kecilnya antusiasme pihak-pihak terkait dalam mendukung upaya media untuk memproduksi program-program substantif, inspirasional, dan tidak tereduksi jika ia teraudio-visualkan dari novel seperti film Ayat-ayat Cinta tadi.

Monday, July 13, 2009

13 Juli 2009 ::

Lama aku tak menulis. Di ujung senja ini, aku mencoba mengintimi kembali anak-anak rohani yang pernah kulahirkan. Aku jelajahi mereka, aku nikmati satu persatu. Ada desiran penuh rindu yang merajam hatiku. Ada rasa bersalah yang begitu menikam. Ada keterasingan mendalam yang seketika membuatku bergidik.

Ah, betapa aku memang rindu menulis. Aku rindu tenggelam dengan dunia aksara yang penuh keajaiban itu. Aku rindu sensasi mengrajin kata. Aku rindu merasakan klimaks tiap kali aku berhasil memungkaskan isi kepalaku dalam rentetan kata yang berbaris sumringah.

Senja ini, dengan penuh kerinduan, kembali kurajut buah pikirku dengan jarum kata-kata. Kembali kulahirkan anak-anak rohaniku dengan bidan aksara. Tak ingin, tak ingin lagi aku KB menulis. Tak ingin, tak ingin lagi aku memandul.

Friday, May 22, 2009

Exam's Wishes ::

Menekunimu di hiruk pikuk tengah kota Cairo
Menekunimu di senyap malam-malam insomnia
Menekunimu di kenyang dan laparku
Menekunimu di semangat segar-bugar dan lelah-kantukku
Menekunimu di segala godaan kemalasan, kebosanan, kelengahan dan kelalaianku
Menekunimu di bawah bayang-bayang orang-orang yang mengharapkan kesuksesanku
Menekunimu di riuhnya asa untuk segera menggapai mimpi-mimpi lain yang tak sabar mengantri
Menekunimu di getar cemas dan asa yang mencekam
Menekunimu, hanya kamu, diktat kuliahku...

Ya Allah... Betapa syahdu "Ujian Rohani" di bumi para Nabi-Mu ini
Betapa bersyukurnya Kau masih sudi getarkan sekeping hati pekatku ini
Betapa bersyukurnya Kau masih sudi getarkan nurani ini untuk beranjak berbenah dan mulai merasakan syahdunya ikhtiar

Allaahummaj'al fi imtihaanina, wa fi ta'alumina, wa fi a'maalina, wa fi aamalina, wa fi hayaatina, kullu minannaajihaat wa naajihiin...
Allaahummaftah lana abwabar rahmah, wa abwabas shihhah, wa abwabal barakah, wa abwabal maghfirah, wa abwaban najah, wa abwabat taufiq, wa abwabal jannah...
Allahumma sahhil imtihanana, wa sahhil ta'allumana, sahhil hifdza quranina, wa sahhil hifdza durusina, sahhilna ya Allah...

Allaahumma najjihna, allaahumma waffiqna, innaka anta waliyut taufiq. Allaahumma amiin...


***

Cairo, 220509 - 5.00 CLT

Friday, April 24, 2009

A Song before Exam ::

Dear Mates :) Apa kabar semua? Hari-hari menjelang ujian Azhar begini sungguh merupakan cobaan untuk benar-benar teliti dan hati-hati dalam pikirin, perkataan dan perbuatan. Jika tidak, niscaya akan mudah sekali terjangkit virus buta fiqh awlawiyaat alias virus buta skala prioritas seperti yang sedang kulakukan ini... (Hmm, bahasaku sampai kedengar aneh...)

Overall, setelah blog-walking semalam suntuk, aku tak sengaja menemukan blog yang memosting lyric lagu "Pulang"-nya Nidji ini. Aku suddenly ngerasa if that song matches me much, terlebih saat-saat menjelang ujian begini, makanya kuposting.. :)

And for My Man, this post is still a tribute post for you anyway ^_^


"Pulang"

Di tepi kota ini
Ku merasa sangat sepi
Berdiri di atas karang
Kukenang wajahmu

Berikan aku waktu
'Tuk berlabuh ke pelukmu
Sadarkan semua niatmu
Dan jangan tinggalkan aku
Jangan tinggalkan..

Aku ingin pulang
Aku ingin pulang
Berikan doamu
Agar aku pulang

Aku ingin pulang
Aku ingin pulang
Berikan sayapmu
Agar aku pulang

Aku ingin cepat pulang
Aku ingin cepat pulang
Berikan sedikit waktumu
Untuk tetap menunggu
Tetap menunggu..

Baby you said your all that i need
Baby you said you make me complete
Just come back home
Just come back home to me


Mohon doanya ya Mates. Semoga lebih baik dan maksimal di ujian Azhar kali ini. Amiin...

Wednesday, March 25, 2009

Terima Kasih Cinta ^.^ ::

Cinta memang perkasa
Ia porak-porandakan luka dan keangkuhan
Ia lampaui segala-gala, yang paling tak manusiawi bahkan tak beradab

Cinta memang penenang
Ia pelipur lara dan nestapa
Ia oase kedamaian dan ketentraman

Cinta memang pewarna
Ia lukis kanvas keseharian dengan warna pelangi
Ia torehkan ragam pemaknaan dan pendewasaan

Cinta memang peniup nyawa
Ia selalu sinarkan rona keoptimisan
Ia selalu alirkan semangat cipta-karya

Cinta wahai cinta, terima kasih telah menemaniku…

***

Cairo, 250309 - 5.28 CLT
Untuk Cintaku, “thanks God for devoting him into my life…”

Saturday, March 21, 2009

Sendiri ::

Pada mula dan akhirnya segala hal di dunia ini bernuansa kesendirian. Pada mula dan akhirnya segala hal memang bermuara pada pemaknaan yang paling sendiri. Pada hakikatnya segala hal memang berdimensi sendiri.

Dalam hampir kesemua babak hidupku yang kerap berliku dan sunyi, aku sering temukan keajaiban dalam kesendirian. Di saat-saat itu banyak kutemukan kekuatan aneh untuk siaga dan bertahan. Saat fisik sedang rapuh, saat beragam kenyataan pahit silih-berganti menghampiriku, saat seisi-dunia seolah tak mengerti apa yang tertuntut dari diri ini atas nama pertahanan hidup.

Aku juga temukan jika kesendirian adalah bagian tak terpisahkan dari semua pencapaian. Segala kerja, segala upaya, dalam beragam prosesnya, kebanyakan lahir juga dari lika-liku proses yang sepi penuh kesendirian itu.

Belakangan ini, di sesaknya bus umum, di kencangnya deru metro mini, di hiruk-pikuk kereta bawah tanah, di bisingnya keramaian, di sunyi-senyapnya malam dan kesendirian, di suka maupun dukaku, aku semakin temukan jika kesendirian itulah hakikatku, aku semakin temukan jika hanya diriku sendirilah yang sebenarnya paling mengerti bagaimana harus kuarungi lautan skenario tak terduga yang telah dirancang oleh-Nya ini, hanya diriku sendirilah yang paling bertanggung jawab terhadap semua yang telah, sedang, dan akan terjadi atasku.

Kehidupan yang fana ini, betapapun dipenuhi dengan keramaian yang hilir-mudik, betapapun menghadirkan sosok-sosok dan hal-hal yang tak terhingga ragamnya, sebenarnya tak luput dari kenyataan yang meniscayakan kesendirian. Ia diawali dengan ritual permulaan hidup yang sendiri, lalu berlangsung dalam ritme yang tak lepas dari nuansa kesendirian, dan kemudian akan ditutup dengan ritual pengakhiran hidup yang kelak juga sendiri.

Thursday, February 12, 2009

First Post in 2009 ::

Tadi sore aku diundang ke sekretariat WIHDAH—Persatuan Mahasiswi Indonesia di Mesir. Ada briefing untuk Debat calon Ketua WIHDAH besok. Kebetulan aku salah seorang Debatornya.

Tak kusangka, seorang adik tingkatku datang menyodorkan Jurnal Qathrunnada milik WIHDAH. “Kak, mohon dikritisi…” pintanya agak malu-malu. Akupun membuka-buka jurnal itu dan kemudian bertanya padanya, “Maksudnya aku diminta memberikan pandangan untuk Jurnal ini? Kalo gitu, aku pinjam dulu Jurnalnya ya…”

“Oh ngga Kak, bawa aja, itu memang sengaja ana siapkan buat antum. Ana ingin antum kritisi isi dan tampilan jurnal itu…” begitu kurang lebih jawabnya agak refleks.

Lalu tak disengaja, kamipun banyak bercerita, dia lalu bilang jika selama ini dia adalah pembaca setia blog-blogku meski tak pernah meninggalkan jejak. Dia bilang semacam belajar banyak dari tulisan-tulisanku, dia bilang banyak temukan inspirasi dari blog-blogku, bla bla bla...

Aku seketika jengah mendengar celoteh adik tingkatku yang rupanya adalah Pemimpin Redaksi jurnal Qathrunnada tadi. Kupikir semua itu terlalu berlebihan. Aku sama sekali belum maksimal dengan aktivitas blogging-ku selama ini. Tulisan-tulisanku pun masih banyak yang perlu di-improvisasi. Apalagi saat kuingat di tahun 2009 ini aku belum memosting apapun di blog Diary-ku yang notabene merupakan most-updated blog among my others blogs.

Memang Mates, belakangan ini aku seperti pelit sekali untuk mengalokasikan pikiranku ke hal-hal yang kurang terkait dengan proyek akademikku. Aku seperti tertuntut not to think too serious except all thing related to Law, Political or Diplomacy. Aku seperti sedang berada di puncak kekalutan bagaimana agar aku bisa benar-benar fokus pada hal-hal tersebut. Karena terlalu kalutnya, aku bahkan sempat terpikir untuk memangkas habis semua aktivitas yang tidak academic projects-oriented, termasuk diskusi Mizan yang begitu ekslusif itu!

Hanya nahasnya, ternyata sampai beberapa hari lalu aku kebanyakan cuma berkutat dengan kekalutanku. Aku seperti kelimpungan dengan banyak hal yang kutargetkan tanpa bisa benar-benar menyelesaikan semua target-target itu. Aku seringkali tertekan saat sedang menemukan mood untuk berdiam di depan notebook-ku sementara ada agenda di luar yang harus kupenuhi. Ingin rasanya memberontak. Ingin rasanya benar-benar bisa membangun my real solitude to be totally focused on my own projects.

Terus terang, ada banyak hal yang membuatku terobsesi sekaligus kerap tertekan sendiri belakangan ini, seperti agenda akademik baruku untuk menyelesaikan Diplome of political Science di Cairo University, Ketentuan-ketentuan pribadiku untuk me-review semua forum diskusi yang kuikuti di Cairo University, Membaca dan me-review buku-buku Hukum yang kemarin kubeli di indonesia, me-review diktat-diktat Hukumku di Azhar, dan juga menerapkan beberapa proyek yang diusulkan Pak Masbukhin saat di Deplu kemarin. Semua itu Mates, sungguh terasa sangat berat di tengah-tengah tuntutan aktivitas non-academic projects-oriented yang kebanyakan harus kulakoni in that such far Nasr City...

Tapi overall, aku bersyukur karena aku mulai lebih rileks dan terprogram beberapa waktu ini. Aku merasa mulai bisa meng-handle berbagai kelimpungan-kelimpungan itu. Dari My Man kuperoleh tips untuk bisa fokus menggarap satu tulisan di tengah tuntutan tulisan-tulisan yang lain, “terapkan tipsku biar tidak scattered-mind, itu semacam manajemen otak juga…” ujar My Man dengan charming-nya di percakapan kami. Lalu dari adik tingkatku itu, aku jadi semakin semangat untuk melakukan lebih banyak hal, termasuk semakin rutin merekam beragam hal di blog-blog tercintaku. Karena aku yakin, semakin baik manajemen konsentrasi yang kita bangun, akan semakin banyak juga target-target kita yang weldone.

Sunday, December 28, 2008

Have an Improving Birthday, Hanara! ::

Dalam hitungan jam, usiaku akan genap 22 tahun. Dan Mates, sungguh tak ada yang lebih menggetarkanku di detik-detik ini selain perasaan bergemuruh bercampur was-was akan kelanjutan studiku di Azhar.

Tak mudah rupanya untuk beradaptasi kembali setelah relatif lama meninggalkan Cairo. Di rentang dua minggu sekembalinya aku dari Indonesia ini, beragam perasaan dan cobaan seolah menggoyahkan keteguhanku untuk senantiasa keeping survive hingga kelak memboyong gelar Lc dari Azhar.

Kembali menapakkan kaki ke ruas-ruas dinamika Cairo ini memang membuatku kembali dibayang-bayangi tragedi mengerikan 5 Juli lalu. Kutemukan diriku terjebak antara trauma dan was-was yang begitu menikam. Sungguh, dalam hal apapun aku belum pernah dihinggapi perasaan campur-aduk yang bisa jadi mendekati kepesimisan serupa ini. Betapa dalam lubang keterpurukan yang menjeratku, hingga beragam pengalaman luar-biasa yang kudapatkan selama kepulanganku ke Indonesia seolah belum cukup untuk kujadikan tangga keluar dari jurang keterpurukan ini.

Aku sebenarnya tak ingin menafsirkan complicated-nya perasaanku ini sebagai bentuk kepesimisan. Dan aku memang tidak akan pernah membiarkan diriku terjebak situasi pesimis dalam hal apapun. Tapi entahlah Mates, kenapa sehebat ini gemuruh ini menghantamku. Setiap hal dan person yang berbenang merah dengan Azhar, studi, dan riwayat pergerakan pro-akademik/spesialisasiku seolah menyisakan perasaan aneh yang membuatku selalu bergidik. Seperti saat berinteraksi kembali dengan kampus dan diktat Peradilan Administratif yang harus kuulang di termin ini, ataupun saat aku kontak dengan Pak Dubes dan beberapa motivator akademik/spesialisasiku, atau juga saat aku kontak kembali dengan rekan-rekan satu jurusan dan rekan-rekan Arus Kampus.

Sebelum tidur semalam, hanya mohonku agar aku diberi kekuatan untuk menyelesaikan studiku di Azhar yang memenuhi rongga lisan dan hatiku. Sungguh, aku ingin menjadi salah seorang alumni lembaga pendidikan Islam tertua ini. Aku ingin Azhar menjadi salah satu “level-normatif” dari riwayat akademikku. Aku ingin menyelesaikan dengan baik apa yang telah kumulai di Al-Azhar Asy-Syarif ini, meskipun aku seutuhnya sadar jika selama ini aku belum benar-benar berkomitmen memulainya.

Sebenarnya Mates, bukan substansi atau sistem perkuliahan Al-Azhar yang membuatku gundah seperti ini. Tapi sepenuhnya tentang was-wasku akan mampukah aku me-manage diriku sendiri untuk benar-benar menjadi santri Azhar yang baik ke depan, tidak seperti selama ini. Karena aku percaya, di Azhar memang berlaku kontrol “X” sekaligus “hukum kausalitas tersirat” yang begitu adil. Dalam artian, kesuksesan naik tingkat akan kita peroleh jika ada harga yang berani kita bayar untuk kesuksesan itu, usaha maupun doa. Dan dengan pengawasan kontrol “X” tadi, nilai kesuksesan naik tingkat itu sungguh akan begitu adil dan lurus-sebanding dengan harga yang berani kita bayar tersebut, tanpa sedikitpun yang terselewengkan. Di samping, aku juga begitu percaya jika segala proseslah yang kemudian akan menjadi akumulasi akhir di hari pemampangan hasil ujian, baik proses-proses yang “substantif” maupun yang “non-substantif”.

Jika aku review, meskipun naik tingkat dua kali berturut-turut di tingkat satu dan dua kemarin kuperoleh dengan perjuangan yang mungkin tak seberapa, tapi ada nilai perjuangan di sana, ada azzam kuat yang memimpin semua kelalaian-kelalaianku.

Di tingkat satu, aku belum punya bayangan dalam kualifikasi seperti apa Azhar akan menggolongkanku ke golongan mahasiswa-mahasiswanya yang naik tingkat. Karena untuk memprediksi nilai, sebagai mahasiswa baru aku tentu belum pernah mengetahui dalam kualifikasi jawaban ujian seperti apa, aku akan lulus dalam suatu mata kuliah. Jadi saat itu, aku sama sekali tidak tahu akan naik tingkat atau tidak karena belum punya standar prediksi.

Hanya saja, saat-saat menjelang diumumkannya hasil ujian, aku begitu ketakutan, terutama mengingat betapa akan down-nya aku jika harus tidak naik tingkat di tahun pertama dan betapa akan porak-porandanya cintaku yang sedang benar-benar meluap-luap terhadap jurusanku itu. Maka yang kulakukan saat itu, aku tak henti-hentinya berdoa dan minta didoakan. Dan ketika ada pengumuman hasil ujian, alhamdulillah aku naik tingkat meski dengan nilai pas-pasan. Dan dari sana jugalah aku kemudian mulai bisa membaca bagaimana ke depan aku harus menspekulasikan nilai-nilai ujianku sebagai prediksi pribadiku. Karena ternyata, nilai yang terpampang memang tak jauh berbeda dengan apa yang kita kerjakan di ruang ujian.

Lalu di tingkat dua, seperti yang pernah kuceritakan di postinganku lebih kurang setahun setengah silam, azzam yang kuat untuk bisa bahkan sekedar ikut ujianlah yang mungkin menjadi sumber taufiq-ku saat itu. Dengan beragam keadaan sulit karena kondisi kesehatan yang begitu tak bersahabat, aku tetap gigih ingin belajar. Dan alhamdulillah, di setiap mata kuliah aku seolah mendapat kemudahan dan petunjuk, baik saat belajar maupun saat menjawab soal ujian. Finally akupun naik tingkat, meski lagi-lagi dengan nilai yang pas-pasan.

Berbeda hal dengan tingkat tiga tahun lalu, di tingkat ini aku tidak terlalu fatal bermasalah dengan kesehatanku, aku pun sudah sangat paham dengan segala macam konsep prediksi, aku juga sudah sangat paham jika tingkat tiga adalah jenjang tersulit di jurusanku, aku juga tentu sudah sangat paham apa akibat mengerikan jika aku sampai tak naik tingkat. Tapi memang dasar aku yang bebal, aku yang belum mampu me-manage diriku sendiri untuk patuh pada skala prioritas, aku yang belum bisa mengalahkan kemalasan dan berbagai penyakit penghambat kesuksesan di malam-malam ujianku. Itu saja, itu saja alasan-alasan yang paling rasional kenapa di tingkat ini aku harus mengulang, bukan karena kesibukan organisasiku, atau juga karena kesibukan-kesibukanku untuk mengurus proses pendaftaran magang dan asrama di hari-hari ujian summer-ku termin lalu.

Semenjak di Cairo, aku memang temukan paradoks yang ironis dari diriku. Dalam banyak hal, aku kerap all-out untuk mengejar sesuatu yang benar-benar mengobsesiku, tapi sebaliknya, aku tak pernah temukan semangat all-out itu untuk mengejar prestasi akademikku di Azhar. Jika untuk benar-benar optimal mengejar keinginanku agar bisa magang di Deplu, aku sanggup sampai muntah-muntah di perjalanan ke Garden City, kenapa di tingkat tiga kemarin aku tak sanggup sampai muntah-muntah juga untuk mengejar hafalan Al-Quranku? Jika untuk menyelesaikan sebuah tulisan aku sanggup sampai tak tidur bermalam-malam, kenapa untuk membaca sebuah diktat kuliah aku bahkan tak bisa menjaga konsentrasiku hingga lebih dari satu jam? Betapa keterlaluannya perlakuanku terhadap institusi seluhur Azhar!

Sungguh Mates, terlalu banyak hal yang harus aku evaluasi dan benahi di setengah perjalanan akademikku di Azhar ini. Terlalu kuat musuh yang harus kutaklukan untuk mengubah segala kecendrungan negatifku selama ini. Ratapan kegagalan selamanya akan berwujud kegagalan jika aku tak benar-benar mulai bangkit dan berbenah. Hikmah segala kegagalan tak akan tampak sebagai hikmah yang bermakna jika tak kusertai dengan langkah-langkah perbaikan.

Dalam hitungan jam, usiaku akan genap 22 tahun. Dan dalam waktu yang sama, aku harus segera menyadari bahwa terlalu banyak agenda-agenda besar yang akan tertunda jika aku tetap kompromis dan permisif dengan kecendrungan-kecendrungan negatifku selama ini. Aku harus benar-benar bangkit dan berbenah. Tak ada waktu sama sekali untuk tidak berserius di usia setua ini.