Hello Desi from Cairo
For you who are patiently waiting for the clock to struck at twelve
Tick tack tick tock
Because come midnight you'll see the world through different set of eyes
A sight of twenty five years old woman
Do know that life isn't a Cinderella
There is no magic and shortcut through this story
Because everything that you did in the past adds up
Like a random dots that came alive as your pen aligned it
Or a jumble of interlocking puzzles, completed
As the last missing piece tumbling down in place
So do not hesitate
And enjoy the exhilaration you felt
As you walk forward or running toward your goal
Grabbing those achievements along the way
Do not fear for intermittent waiting
That suddenly sneaking up behind you
Because your goal won't go anywhere else
And that is a part of life
Story said gods forged Gatotkaca in Candradimuka
And they hurdled weapons and relics inside
Thus he came out of it stronger than ever
Likewise I hope those past years
All the hurdles that you have to go through
All the Uncertainties you have to face and conquer
All that life had thrown at you
And as you came out of it unscathed
You will see with a different apprehension
That life isn't about a happy ending
Because like a river, it flows
And all your worries will be replaced by a sense of deep conviction
All your sadness will be washed away by euphoria of joy
And we live in pursuit of happiness
Here... and in the afterlife
With a little bit of wisdom you've gained from the past
I hope you'll face the interconnecting future wisely
And as opposed to the proverb, I wish to you
"May we live uneventful times"
Regard:
Truly yours, from Cairo
PS:
Jotting this down hoping to time it with your midnight
But... things happen, and it got away
But, hey, at least it's not midnight yet here
So don't be angry too much, Kay :P
Thursday, December 29, 2011
Soulful Advice and Wishes on My 25th B'day ::
Saturday, April 10, 2010
Facebook. Status, April, 10th 2010 ::
Di pelatihan-pelatihan kepenulisan aku sering menyebutkan bahwa tidak semua karya tulis terkini yang kita produksi akan lebih baik kualitasnya dari karya tulis-karya tulis yang kita hasilkan sebelumnya. Tapi seyogyanya, semakin tua, kita harus terus berusaha untuk lebih bisa memproduksi karya tulis2 lain yang lebih berkualitas, atau minimal se-kualitas dengan karya tulis-karya tulis kita sebelumnya. *Sedang brainstorming ide dan terhanyut dlm file2 tulisan lama..*
Friday, April 09, 2010
Facebook Status, April 9th 2010 ::
Semesta hal-hal besar berkonspirasi untuk membesarkan orang-orang besar pilihan Tuhan; Impian-impian yang besar, pengalaman-pengalaman yang besar, ide-ide yang besar, cobaan-cobaan yang besar, tantangan-tantangan yang besar, kesempatan-kesempatan yang besar, guru-guru yang besar, buku-buku yang besar, ilmu-ilmu yang besar, rekan-rekan yang besar, komunitas-komunitas yang besar, musik-musik yang besar, film-film yang besar, hikmah-hikmah yang besar, fasilitas-fasilitas yang besar, dan sekian banyak hal-hal besar lainnya. [2.52 CLT]
***
Kenapa logika selalu kalah dengan perasaan? Kenapa kondisi fisik selalu mengekor pada kondisi hati? Ada yang bisa berbagi bagaimana cara-cara efektif untuk self-therapy menyembuhkan hati & fisik? Ritual-ritual yang baik untuk menyembuhkan hati & menumbuhkan ikhlas? Tips-tips efektif untuk bangkit dari keterpurukan di tengah rentetan tanggung-jawab moral yang mendesak? Thanks so much.. [16.34 CLT]
I wonder why these songs always match every single phase of my love stories: Wasted/Josephine/Cannonball/Fall Apart Again from Brandi Carlile, Twilight from Vanessa Carlton, I'm With You from Avril Lavigne, and Hollow Years/Take Away My Pain from Dream Theater. [20/46 CLT]
Wednesday, April 07, 2010
Facebook Status, April, 7th 2010 ::
Sometimes when you look back on a situation, you realize it wasn't all you thought it was. A beautiful girl walked into your life. You fell in love. Or did you? Maybe it was only a childish infatuation, or maybe just a brief moment of vanity. (Henry Bromel, Northern Exposure, The Big Kiss, 1991) [16.17 CLT]
***
Well let me tell you my last conclusion on my Self-Love-War lately: Love is mainly about consistency and how to enliven this consistency :) [18.26 CLT]
Tuesday, April 06, 2010
Facebook Status, April, 6th 2010 ::
Kontrol & jagalah kesehatan, seperti kamu keukeuh untuk sehat di hari-hari ujian Azhar. Ibadahlah dengan intens & berkualitas, seperti intensitas ibadah spontanmu di malam-malam panjang ujian Azhar. Belajarlah dengan fokus, seperti kamu keukeuh ngebut baca diktat di malam-malam SKS ujian Azhar. Welcome Summer Exam.. Bersiap lebih dini lebih baik :) [6.56 CLT]
***
El-Tramco Makram - Tahrir ini sungguh merupakan multi-saksi bagiku. Ia adalah saksi ketercekaman, saksi ketergesa-gesaan, saksi kesendirian, saksi ketercenungan, saksi kebisingan, saksi keberdikarian, saksi ke-hectic-an, saksi ketegaran, saksi kebosanan, saksi suka/duka-cita, dan (atau) saksi kehampaanku. [19.07]
***
Tipis bedanya orang gila dengan orang yang lagi jatuh cinta :D *Hmmm btw badan jadi seger habis Makan Soup Brokoli+Wortel sama Telur Mata Sapi. Sukses jg masak sambil ngantuk :D* JAKA SEMBUNG hihi [21.14 CLT]
Sunday, March 28, 2010
Nasr City-Minded ::
Mindset kehidupanku di Cairo memanglah sangat Nasr City-minded. Seberapa keraspun aku menjauhkan diri dari Nasr City, nuraniku tetaplah menolak obsesiku untuk benar-benar mengalienasi diri dari Nasr City ini sejak aku mengungsi ke Tahrir Desember 2008 lalu.
Aku kerap berjauh-jauh menempuh Awwal Makram & district H-7 jika sedang tesangkut kebutuhan stationary & domestik berskala besar di Samir wa Aly & Tauhid wa Nur, padahal di sekitar Tahrir dan Dokki sini ada branch lain dari Samir wa Aly & Tauhid wa Nur tersebut.
Aku juga masih fanatik dengan Genena Mall, Sarag Mall & Abbas Al Aqqad untuk masalah outfit dan fashion, padahal Downtown, Dokki & Mohandesen yang lebih dekat juga merupakan pusatnya outfit & fashion.
Aku pun masih selalu merindukan dinamika komunitas-komunitas Masisir di Nasr City, meski se-hectic apapun aktivitas akademik/intelektual/budayaku di beberapa mimbar akademis dan pusat intelektual/budaya di sekitar Tahrir, Opera & Giza.
Aku juga, naturally, tetap lebih memilih berjauh-jauh memanjakan lidah di deretan Restoran Indonesia di Nasr City, ketimbang harus memanjakan lidah di McDonald's, Bon Appetit, KFC, Mo'men, Pizza Hut, ataupun Hardees yang berderet manis di sekitar tempat tinggalku, yang notabene bertarif tak jauh berbeda dengan tarif Restoran-restoran Indonesia di Nasr City.
Hmm, Nasr City yang merupakan spektrum dinamika Mahasiswa Indonesia Mesir (Masisir), memanglah sudah seperti Miniatur Republik, yang sungguh bagiku terasa seperti Kampung Halamanku di Mesir ini :)
But hey Masisir! Menurut Anda, apakah corak "psikologis" yang kualami ini murni karena keterikatan batinku yang erat dengan Masisir dan lingkungan di mana Masisir berporos, ataukah ini sudah merupakan suatu keterikatan yang "lebai" dan tidak proporsional, yang kemudian sangat potensial menjadi penghambat terbesarku dalam memaknai hakikatku sebagai Mahasiswa Indonesia yang sedang berada di luar negeri, di sebuah lumbung Kampus Raya Mesir dan Kampus Raya Al-Azhar, yang sangat menuntut seorang Masisir seperti aku untuk lari dari karakter fanatik-sektarianku dalam berdinamika dan memperkaya khazanah ilmu dan pengalaman, seperti yang selama ini banyak kugundahkan di ide-ideku tentang Masisir? Yang dalam satu waktu, kondisi "psikologis" yang kualami ini, bisa juga dijadikan indikator bagi kecenderungan Nasr City-minded-nya Masisir-masisir yang lain selain aku? What say you?
Friday, March 12, 2010
Sya'riah Ladzidzah/Mie Sedaap! ::
Di sebuah stand, di tengah-tengah hiruk-pikuk Cairo International Fair 2010, terjadilah percakapan yang very very random, YET ngga jelas ini. Dan ini terjadi berulang-ulang antara seorang interpreter dengan beberapa Egyptian Visitors karena objek promosi memang hanya satu di stand tersebut, which is Mie Sedaap! Haha silahkan dicerna!
Interpreter: 'Andana Hagah Helwah Mie Sedaap ya Kabten, el-ma'na ya'ni Sya'riah Ladzidzah. Heyya shuni'at fi Andunisia, wa fikrotuha zay Andumy ele kan muntigah kaman min Andunisia, bas heyya takhtalif ma'aha fi ta'm wa si'ir--Kami punya barang bagus nih Pak, Mie Sedaap, dalam Bahasa Arab artinya: Sya'riah Ladzidzah. Asli produk Indonesia, dan konsep produknya memang tak jauh beda dengan konsep produk Indomie yang notabene juga produk Indonesia, hanya saja berbeda dalam cita-rasa dan harga.
Visitor
Interpreter
Visitor: Bla Bla Bla malah panjang lebar & terbahak-bahak menjelaskan yang sudah sangat jelas klo arti ladzidzah yang dimaksudnya itu "Sedaap", menawan, etc etc! HAHA PARAHHH deh otak cowo Mesir klo di-combained sama cita-rasa humornya dan basa-basinya! Tsk tsk tsk
Saturday, February 20, 2010
Stagnan ::
Hari-hari ini aku merasa sangat stagnan. Stagnan dalam segala hal dan segala pengertian. Beberapa schedule yang merupakan Job Description dari Resolusi-resolusiku yang telah kususun awal tahun lalu tak banyak yang terlaksana. Hari demi hari tak banyak capaian berarti yang kurasakan.
Aku sebenarnya gerah dengan kondisiku yang sangat tidak produktif ini, tapi aku tidak juga banyak berbenah. Seharian ini pun aku tidak banyak melakukan hal-hal yang signifikan sesuai tuntutan prioritasku yang sebenarnya menumpuk dan sudah ku-list dengan gamblang. Hingga sore ini, saat aku menelusuri folder-folder di laptopku, perhatianku tertuju pada sub-folder yang kuberi nama “Hanara’s Transformation”. Di dalamnya ada rekaman wawancaraku dengan Radio Qommunity di acara Star Qommunity 2008 silam, setelah esai Ekosistem Swa-akademik-ku dinobatkan sebagai esai terbaik pertama di Perlombaan Menulis Esai dalam rangka Dukungan terhadap Lokakarya kerjasama PPMI dan KBRI Cairo.
Aku tidak akan menuliskan bagaimana berlangsungnya ataupun substansi wawacancara tersebut di Diary-ku hari ini. Cukup nanti akan ku-posting rekamannya di page facebook-ku ini sebagai refresh kembali atas ide-ide pokok dari esai itu untuk komunitas Masisir. Tapi di catatan lepas hari ini, aku lebih ingin menuliskan ketercenunganku yang sangat personal saat mendengarkan rekaman wawancara ini.
Dengan menyimak rekaman wawancara ini, aku tiba-tiba terjebak pada deja vu masa-masa yang kurasakan sebagai masa-masa aku sangat produktif menulis untuk kelasku. Jika dipetakan dalam tahun, sebutlah di tahun 2007-2008. Di rentang ini entah aku tak terlalu paham bagaimana aku harus mengingatnya dengan detail. Yang jelas, pada masa-masa itu menulis benar-benar telah mendarah daging dalam keseharianku. Baik itu menulis tulisan-tulisan lepas keseharian semacam ini maupun tulisan-tulisan yang kugarap dengan "bekal" dan keseriusan ekstra.
Saat itu otakku sangat usil menyerap ide tulisan dan benar-benar menganggap keseharian adalah deretan inspirasi dan pembelajaran yang harus kuabadikan dalam catatan harian. Di samping itu, banyaknya tuntutan menulis untuk media-media di Masisir dan beberapa Lomba Menulis yang kuprioritaskan juga cukup menumbuhkan stimulan bagiku untuk benar-benar fokus mengalokasikan konsentrasiku bahkan untuk dua tulisan atau lebih dalam sehari.
Padahal saat itu, aktivitasku di luar juga relatif padat. Aku masih intens sebagai pegiat aktif ataupun top leader di beberapa organisasi, media dan forum kajian intensif di komunitas Masisir ini, aku juga saat itu punya intensitas serius di cyber seperti blogging dan menekuni uncharted jungle menuju peneguhan spesialisasiku yang saat itu masih terkatung-katung tak jelas identitas dan signifikansinya.
Premis ketercenunganku begini, di tahun-tahun setelah aku pulang dari Indonesia atau pasca Magang di Deplu, sebutlah setelah akhir 2008, bisa disebut corak keseharian dan orientasiku memang banyak berubah serta semakin jelas peta dan targetnya.
Secara domisili, aku tidak lagi menetap di Nars City, pusat dinamika Masisir. Tapi aku memilih untuk menjauh ke daerah Tahrir yang sekarang kusadari benar-benar memang merupakan area yang sangat strategis untuk jantung dinamikaku yang berorientasi baru. Sedangkan secara ragam dan orientasi dinamika. Aku benar-benar telah berkomitmen untuk hanya berhubungan dengan Masisir di forum-forum tertentu saja, dan lebih kepada fungsi-fungsi sebagai sebutlah aktor intelektual yang terikat secara ide, dalam pengertian sumbangsih, pengembangan dan pemberdayaannya. Dan untuk ini aku hanya mengalokasikan 25% saja dari total energiku.
Sementara 75%nya benar-benar aku alokasikan untuk kepentingan spesialisasiku baik dari sisi perkembangan akademik maupun intelektualnya. Aku benar-benar mencoba serius menyelesaikan penghujung studiku di Azhar, aku juga mencoba serius untuk optimal di beberapa program non-degree-ku di Political Science Cairo Uni, aku juga menggila dengan polical/law forums di beberapa leading think tanks di Mesir ini. Di samping untuk hal membaca dan menulis, aku juga fokuskan untuk benar-benar bergelut di bacaan dan tulisan pada bidang-bidang yang telah kukomitmeni untuk kugeluti.
Nah, yang membuatku tercenung dan gerah mungkin bukan pada peralihan konsentrasi dinamika tersebut, karena secara standar, dinamikaku yang sekarang tentu jauh lebih orientatif dan jelas signifikansinya terhadap spesialisasiku and hence my future life. Tapi sebaliknya, permasalahannya sekarang ada pada keseriusan dan militansi personalku. Aku sungguh merindukan militansi dan keseriusanku di tahun 2007-2008 itu. Di mana di sana segala schedule dan prioritas benar-benar bisa kupatuhi dan kucamkan urgensi pencapaiannya. Tidak seperti sekarang, karena bahkan untuk hal-hal yang sudah jelas konsekuensinya jika tidak terlaksa pun, aku masih kerap apatis! Aku benar-benar sedang krisis militansi dan keseriusan. Aku seperti hanya terjebak dalam deretan prioritas yang “wah” dan schedule job description yang “detail dan cerdas” tapi terlanjur anti-klimaks dengan segala perasaan menghanyutkan akan ke-SOK-wah-an serta ke-SOK-detail-an dan ke-SOK-cerdas-an tersebut.


