Monday, November 03, 2008

I'm Home, My Real Home... ::

Sore ini aku membuka-buka kembali folder-folderku. Menjelajahi isinya dan terhanyut dalam kenikmatan-kenikmatan yang sunyi. Kenikmatan-kenikmatan yang sekian lama tak kurasakan.

Folder-folder ini lambang kemandirianku. Lambang ribuan inspirasi dan target-target yang sekian banyak telah mendidik dan menempaku.

Folder-folder ini adalah alam yang begitu nyaman bagiku. Mereka serupa lorong-lorong sunyi yang selalu ada dengan pesona sekaligus misterinya. Mereka tempatku berpamitan saat akan kumulai karyaku di belantara nyata. Mereka tempatku berpulang dengan segala suka-duka capaianku.

Folder-folder ini sungguh serupa gudang yang akan selalu menuntut tambahan stok karya dan inovasiku; yang akan selalu menunggu lompatan-lompatan berarti dalam setiap jengkal pergeseran usiaku.

Folder-folder ini adalah rumah sebenar bagi sumber kualitas diri dan karyaku. Mereka sutradaraku. Mereka event organizer-ku. Mereka cermin sejatiku.

Thursday, October 23, 2008

Some Ideas on Talk Show “Secangkir Kopi untuk Bangsaku” ::

Pagi ini, aku menghadiri Talk Show “Secangkir Kopi untuk Bangsaku” di University Club, UGM. Talk Show ini digelar dalam rangka ceremonial pembuka Konferensi Mahasiswa Indonesia yang dihadiri oleh berbagai mahasiswa Indonesia dari seluruh tanah air.

Talk Show ini berlangsung begitu impresif. Sebagai warming up, Jimly Asshiddiqie, sang mantan Ketua Mahkamah Konstitusi dan Guru Besar Hukum Tata Negara UI, memberikan keynote speech-nya. Dalam keynote speech yang juga ada sesi interaktifnya ini, aku temukan satu refleksi menarik.

Diakhir speech-nya yang sangat “konstitutif”, Pak Jimly bercerita tentang Plato dan kedua bukunya. Dalam buku Plato yang pertama, Republic, Plato ternyata sama sekali tidak menganggap hukum/sistem pemerintahan sebagai sesuatu yang penting dalam keberlangsungan suatu negara. Bagi Plato, kekuasaan suatu negara harus diberikan kepada para filsuf (baca: kaum intelektual). Yang di buku Republik ini disebut sebagai Konsep “The Philoshoper Kings”.

Tapi seiring dengan interaksi Plato dengan para pejabat Pemerintahan di zamannya. Plato mulai menyadari bahwa baik atau tidaknya keberlangsungan suatu negara itu tenyata tidak mutlak tergantung pada apakah pelaku pemerintah tersebut adalah para filsuf atau kaum intelektual, tapi lebih kepada apakah sistem pemerintahan dalam negara itu baik atau tidak. Maka kemudian, di buku keduanya, Laws, Plato menegaskan pentingnya hukum/sistem pemerintahan yang baik untuk keberlangsungan sebuah negara.

Pengkisahan tentang Plato dan kedua bukunya ini, khususnya buku yang pertama yang memaparkan konsep "The Philoshopher Kings", mengingatkanku dengan komunitasku di Mesir sana. Menurutku, latar belakang kebanyakan mahasiswa Indonesia Mesir yang kebanyakan dari Pesantren, serta iklim pendidikan Al-Azhar dan iklim dinamika mahasiswa yang terbentuk secara kultural di tengah-tengah komunitas mahasiswa Indonesia Mesir, lebih cenderung mencetak dan mengkondisikan intelektualitas penghuninya dari pada misalkan, mencetak kecakapan untuk menjadi pelaku institusi tertentu di tanah air.

Ini tentu logis bagi sebagian besar mahasiswa Indonesia yang mengenyam pendidikan di luar negeri, karena sebagian besar mahasiswa Indonesia Mesir memang belajar di fakultas yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan pengetahuan dan kecakapan institutif dalam negeri. Bahkan untuk jurusan Islamic Law and Jurisprudence yang memberikan kesempatan luas untuk belajar tentang hukum dan ilmu pemerintahan pun, realita yang sama tetap berlaku. Karena di beberapa mata kuliah yang membekali pengetahuan dan kecakapan institutif, semisal mata kuliah Hukum Tata Negara, mahasiswa Indonesia jurusan ini tentu justeru mengenyam pengetahuan dan kecakapan tata negara Mesir, bukan Indonesia.

Tapi dalam pandanganku, ada satu hal yang menjadi masalah dari realita serupa ini. Ketiadaan kecakapan dan pengetahuan institutif ini selanjutnya akan merepotkan para alumni Al-Azhar yang berkecendrungan untuk terjun ke profesi birokrat. Akibatnya, banyak alumni Al-Azhar yang terpaksa atau (bahkan) sengaja memilih untuk menggunakan Partai Politik sebagai kendaraan untuk sampai pada profesi birokrat tadi. Hal ini cenderung berakibat fatal menurutku, karena proses pencapaian karir birokrat yang serupa ini dalam banyak hal akan sewajah dengan konsep “The Philoshoper Kings” milik Plato yang diceritakan Pak Jimly tadi, dalam artian, akan ada banyak hal yang menjadi kendala bagi para alumni Azhar tersebut ketika melakoni peran institutif tersebut yang disebabkan oleh minimnya pengetahuan dan kecakapan institutif mereka. Sebab beberapa kali, telah kita temukan alumni/jebolan Al-Azhar, yang ketika berada dalam kursi kepemimpinan tertentu, bahkan dalam kursi tertinggi di negeri ini, memang pada kenyataannya kurang tepat untuk berada di posisi tersebut, karena kapasitas intelektualnya jauh lebih menonjol ketimbang pengetahuan dan kecakapan institutifnya…

Sebenarnya, aku ingin sekali meminta tanggapan langsung dari Pak Jimly tentang refleksiku ini. Sayangnya, saat sesi interaktif dengan pak Jimly dibuka di Talk Show tadi, aku belum menemukan konsep refleksi yang matang terkait cerita Pak Jimly tentang Plato dan kedua bukunya itu, tapi aku baru sekedar merasakan ada “sesuatu” yang perlu diungkap dan direfleksikan dari cerita tersebut. Karena memang, refleksi tentang cerita Plato dan kedua bukunya itu baru kemudian kutemukan muaranya ketika aku menceritakannya ulang dengan sahabatku beberapa jam setelah Talk Show ini usai. Mungkin aku akan meminta tanggapan Pak Jimly via email. Mudah-mudahan di-reply.

Dan rekans, impresifnya Talk Show ini bukan hanya berhenti pada sesi keynote speech-nya saja, tapi juga berlanjut saat Talk Show-nya. Kombinasi latar-belakang para pembicaranya benar-benar membuat Talk Show ini berlangsung cukup "gerah". DR. M. Budi Setiawan, salah satu deputi dari kementrian Pemuda dan Olah Raga hadir dari kalangan birokrat mewakili Adyaksa Dault, sang Menpora. Lalu dari kalangan akademisi, hadir Zainal Arifin Muchtar yang saat ini mengajar di UGM dan menjadi ketua komisi pemerhati Korupsi FH-UGM. Dan terakhir, dari kalangan politisi, hadir ketua DPRD Yogyakarta.

Di antara para pembicara, pemikiran Zainal Arifin Muchtar atau yang akrab disapa Mas Uceng memang banyak menggugah audiens. Tanpa kerikuhan, beliau mengkritik keras pola pikir mahasiswa yang kebanyakan masih senang “menempel” kepada pejabat pemerintahan. Menurut beliau, mahasiswa itu sepenuhnya harus bertindak sebagai pengawas dan oposan bagi pemerintah. Tidak seharusnya even-even mahasiswa dan pemuda harus diresmikan oleh pejabat. Sudah saatnya mahasiswa benar-benar mandiri dan benar-benar melepaskan dirinya dari cengkraman birokrat dan politisi. Sudah saatnya mahasiswa benar-benar menjadi kelas menengah antara “kelas bawah” dan “kelas atas”, yakni sebagai penerjemah keinginan “kelas bawah” terhadap “kelas atas”, sekaligus sebagai penerjemah birokratisasi “kelas atas” terhadap “kelas bawah”.

Lebih lanjut, beliau menyebutkan bahwa beliau akan lebih senang dan bangga jika kedua pembicara lainnya diundang semata karena semangat kepemudaannya, bukan karena latar belakang mereka sebagai birokrat ataupun politisi.

Sementara dengan ekspresi dan nada masing-masing, kedua pembicara lainnya mengimbangi penampilan Mas Uceng sekaligus dalam banyak hal membenarkan statemen-statemen Mas Uceng.

Demikian rekans, Talk Show ini benar-benar meninggalkan kesan yang mendalam bagiku. Setidaknya karena ini adalah pertama kalinya aku berada satu forum dengan rekan-rekan mahasiswa dalam negeri dan secara langsung menyaksikan pola pikir mereka. Semoga seperti kata Mas Uceng, semangat-semangat muda ini tak hanya sebatas kegemerlapan ide di forum, tapi juga kegarangan tindakan di dunia yang lebih real. Karena “kapal” sebenarnya bukan tercipta untuk dipajang di gemerlap dermaga, tapi justeru tercipta untuk tampil garang menerjang ombak di lautan.

Tuesday, October 14, 2008

A Story after Leaving Ranau ::

O Mates! It's a very poor of me that I just could post something here. I actually have a very reasonable cause for such kind of late. But well Mates, I do know that it's still unreasonable. Very unreasonable even!

I last posted about my bloody feeling when I was arriving at my own home after several years leaving it. And this moment, I am not in Ranau anymore, I have been leaving it for about a week to fulfill my others returning agendas.

Fortunately, such first bloody feeling didn't totally mean my whole feeling during my stay in Ranau. Because in fact, I found many unpredictable things there. I got many touching experiences with my homeland communities and also lovely memories with my families and friends.

I determined it as touching experiences since in my homeland communities, I was percepted as I was a very special guess who was wondered many peoples there. In their sincere perception, my position as an Azharian indeed looks marvelous. Many elders in my communities came to my home just to visit me and ask many things related to religion matters. Beside, I was also invited to be a speaker in some Nuzulul Quran events in several mosques. And do you know? There they called me Ustadzah! Ustadzah Mukarramah! Man...what a shocked! I did't feel happy or even proud at all to be called such way. That's too precious and pure for somebody like me. I'm not that mannered enough to behave it. I'm not deserve, not deserve at all!

To be honest, it's a bit hard for me to be a speaker, teacher or something similar for all things related to religion matters. Because in my eyes, talking about religion matters should be previously followed by a whole good manners of mine. Therefore I first avoid to be such kind of speaker, but what my Dad and others suggested me were motivating me to deliever whatever I guess as a deserve talk. I then told much about Reading Culture based on Nuzulul Quran History which is I saw as one of the lackness of Ranau peoples. Beside my comperative description between Egyptian's love to Al-Quran and Indoesians'.

Yeah Mates, those experiences absolutelly touched me. Not merely because I could deliever a deserve talk that matched my capacity, but also because it rised my own motivation to share many more things to my homeland communities. In my deep heart, I was so happy and promising myself to pursue my dreams as hard as I can until I able to dedicate many more precious things for my homeland.

Then beside above touching experiences, I was also very glad and feeling blue to have a strong connection with my whole families and friends in my last stay in Ranau. To be with them trully made me awaken and realizing that I still come to them with empty hands. I still couldn't give anything to them. From their deep eyes, I could feel that they lay a very big hope to me. They wish me much to be somebody who able to give and inspire them much someday. And Mates...I'm still that touched and hardly keeping their hope in my top obsession. I love them, and I really wish that I could fulfill their hope.

And the last Mates, here I'm in Yogyakarta now. Having my English Profiency Test (TOEFL) at LIA and enriching my French language skill in LIP. Beside I also try to learn many more knowledges in International Relation, Law, Phyloshopy, etc with some of my kind mates here. Wish all I could do during this returning will appear as a very valuable capital to continue my next fight there...in Cairo...

Thursday, September 11, 2008

I'm Home ::

Today is my fifth day living in Ranau, my own village. I really couldn’t even manage my feeling since some days before I started my trip to Ranau. It’s such a very hard trip and live I ever had. Feel like both view of my past and future was cruelly attacked me. Feel like asked much about what I have been doing and achieving during my last unfinished journey.

Home, oh home. I’m home now. To be in home is sort of complicated for me. Not like others, home frankly means and looks different for me.

No more words I could even write here to describe my feeling when I was home after some years leaving it. What I totally think is just the way how to prove my sincere love to it and its whole contents.

And I deeply know, the struggles to prove it are still that long…

Wednesday, September 03, 2008

Valuable Moments in Pictures ::





Sweet Moments Bareng Rekans Internship


Di Direktorat Hukum


Di BPPK


Bareng Pak Klemen dan Pak Wahyu


Bareng Pak Edyy, Pak Masbukhin dan Pak Sakidin

Tuesday, September 02, 2008

See Ya, Deplu... ::

Sebenarnya masa internship-ku di Deplu berakhir tanggal 29 Jumat kemarin. Tapi sampai hari ini aku masih harus menyelesaikan beberapa instruksi dari Pak Sakidin terkait kelengkapan administratif Jurnal Luar Negeri. Instruksi ini sebenarnya telah diberikan sejak tiga minggu lalu, tapi kesulitan pengumpulan data dan beberapa rutinitas pasca pindahnya lokal internship-ku di Direktorat Hukum, sedikit banyak membuat pekerjaan ini tertunda.

Semalam, sepulangnya dari jam magang, aku segera packing untuk meninggalkan kost-an yang sebulan ini telah banyak menorehkan kenangan. Berat sebenarnya, karena selama sebulan ini, Pejambon telah menyisakan romantika tersendiri bagiku. Ada gurat-gurat keoptimasan yang diam-diam kuhayati dari keseharianku di sana. Ada juga kenyaman motivatif yang benar-benar kunikmati dari tiap rutinitas yang kulakoni di sana. Sosok-sosok yang kutemui pun begitu mengesankan. Tante Dolly sekeluarga, sang empunya kost-an yang ramah, Mb'Lia dan Jule, teman-teman kost-ku yang baik hati, Rumah Makan Semarang yang murah meriah, Tukang Roti yang tak kutemukan lagi jejaknya sampai sekarang... Hmm, betapa aku secepat itu merasakan keintiman dengan semua itu...

Dan sobat, jangan tanya betapa beratnya juga ketika aku harus menyadari kalau masa internship-ku di Deplu ini telah berakhir. Sungguh, terlalu banyak lonjakan luar biasa yang kutemukan di sini. Terlalu banyak keoptimisan-keoptimisan yang sedemikian kuat membangunkanku dari keterpurukanku karena tragedi 5 Juli lalu. Terlalu banyak modal yang kudapat untuk meneruskan rangkaian ikhtiarku ke depan.

Gerimis rasanya saat aku harus berpamitan satu-persatu dengan Diplomat-diplomat yang santun di HPI. Meski hanya sepuluh hari involved di sana, telalu banyak yang aku hayati dan pelajari dari beliau-beliau. Pak Eddy, Sang Direktur Hukum yang begitu mengayomi dan lebih banyak menghabiskan jam kerjanya di ruangan staf beliau agar bisa memantau dan membimbing langsung pekerjaan para staf-staf beliau. Pak Jati, Pak Mandala dan Pak Buki, para Kabag yang juga tak kalah cekatan dengan sang atasan. Lalu Pak Masbukhin, sosok Azharian yang bagiku begitu inspiratif, beliau telah banyak membimbing dan membuka paradigmaku. Lalu Pak Klemen, sang diplomat muda yang selalu tampil necis dan ramah. Juga Mb' Evita dan Mb' Ari, diplomat-diplomat perempuan yang enerjik namun tetap girly. Juga Pak Haryo yang dijuluki Prof. Haryo karena sosoknya benar-benar seperti ensiklopedi berjalan. Dan tak ketinggalan Pak Koko, Pak Acep dan Bapak-bapak serta Ibu-ibu yang lainnya.

Perasaan yang sama juga kurasakan saat aku terkenang masa-masa di BPPK. Dalam beragam perasaan, aku tetap tak henti-hentinya bersyukur bisa internship di sana. Perkenalan dengan Pak Sakidin yang begitu banyak memberikan lampu hijau selama proses magangku. Beliau bagiku, bukan hanya sebagai sang pemberi lampu hijau, tapi juga sosok yang telah banyak membimbing, memotivasi dan menginspirasi. Sungguh, tanpa beliau, mungkin tak akan sebanyak ini manfaat internship dan peluang penjajakan yang bisa kuoptimalkan. Lalu juga Pak Wahyu, PJ Magang BPPK yang baik hati dan kerap kocak, aku sungguh berterima kasih banyak atas bimbingan dan inspirasi dari beliau. Juga Bu Endang, Kabag Umum Sekretariat BPPK yang banyak menginspirasi dan mengayomi. Pak Yadi, Pak Sulaiman, Pak Daryoto, Pak Pane, Bu Susan, Mb' Lena, Bu Sum dan Bapak-bapak serta Ibu-ibu yang lain yang "berseliweran" memberikan bimbingan dan pelajaran selama jam-jam magangku.

Terakhir, aku juga tak kalah gerimis saat ingat hari-hariku bersama teman-temanku peserta magang yang lain. Fredy dan Soter, teman-temanku dari Papua. Eri dan Nani dari Unibraw. Krista, Novi, Abel, Duo-Dika dan Reni dari UI. Tiva dan Nimas dari UMY. Sungguh, tanpa kalian tak akan seramai ini jam-jam magang kita. Ingatlah sobat-sobatku, aku pernah merasakan kesepian itu saat pertama kali harus pindah ke HPI dan berjarak dengan kalian. Aku sungguh sayang kalian.

Overall, mudah-mudahan beratnya perasaan untuk mengakhiri masa magang ini menjadi pertanda baik. Mudah-mudahan kelak aku benar-benar bisa menyonsong mimpi lama itu di ruas-ruas Pejambon yang rindang... Mudah-mudahan.

Friday, August 22, 2008

Inspiring Pics Pagi Ini ::

Pagi ini, saat buka email, ada surprise dari someone yang menyebut dirinya sebagai Mr. Azam Ahamed. I don't want to think much about who he is. But I should thank him for these inspiring pics. Here I share you, Folks. Klik gambar untuk melihat tulisan dengan jelas ya... :)








Thursday, August 21, 2008

First Day in HPI ::

Hari ini, aku start pindah lokal internship di Ditjen HPI. Sebenarnya, sesuai surat pengantar dari BPPK, sejak tanggal 20 kemarin aku sudah harus start di HPI ini. Tapi karena kemarin ada Forum Debriefing, akhirnya masa internship-ku di HPI baru bisa kumulai hari ini.

Atas rekomendasi Pak Sakidin, aku sudah bertatap langsung dengan Pak Eddy Poerwana, Direktur Hukum ini sejak seminggu yang lalu. Dari Pak Sakidin dan Pak Eddy inilah kutahu jika ada satu orang alumni Al-Azhar yang menjadi staf di Direktorat Hukum ini yang sedang mendapat job kajian X, so rencananya, menurut beliau berdua, aku akan diperbantukan untuk ikut menggarap job tersebut.

Aku tentunya penasaran, seperti apa sosok Masisir yang bisa tembus Deplu itu. Karena memang, sampai saat ini, masih sedikit sekali alumni-alumni Al-Azhar bisa merambah kawasan Deplu.

Dan hari ini, akhirnya aku berkenalan dengan beliau. Pak Akhmad Masbukhin nama beliau. Setelah merancang teknis penggarapan job kajian X tersebut. Aku lalu sharing banyak hal dengan beliau, dari cerita-cerita seputar Cairo, sampai sharing proses aplikasi CPNS Deplu dan interogasiku terkait hal-hal yang menurut beliau bisa membuat beliau tampil excellent di CPNS Deplu dua tahun lalu.

Dari perbincangan itu, aku jadi semakin mengerti dan menghayati. Betapa memang tipe-tipe Masisir yang bisa berperan excellent di masyarakat, salah satunya adalah tipe yang memang matang dalam spesialisasi dan sadar akan eksistensinya selaku mahasiswa luar negeri. Dan bisa dipastikan, itu sangat jarang ada di Cairo. Karena siapapun yang akan masuk ke kawasan Masisir, telah serta-merta terancam satu ancaman yang benar-benar bisa membunuh karakter dan kecakapan; apalagi kalau bukan dis-orientasi disiplin ilmu dan eksistensi tersebut.

Dan kulihat, pak Masbukhin adalah salah satu dari sedikit sekali Masisir yang sadar akan pentingnya spesialisasi dan eksistensi tersebut. Inilah salah satu aspek yang strongly support his best performance saat mencoba apply ke Deplu dua tahun lalu. Di samping juga tentunya beberapa personalitas beliau yang memang sangat bermodal untuk menjadi seorang diplomat.

Aku tentunya tak henti-henti bersyukur dipertemukan langsung dengan banyak sosok yang super-inspiring di Deplu ini. Apalagi mengingat job-job yang selama ini kuterima sungguh merupakan job-job yang spesial untuk ukuran peserta magang. Dengan internship di BPPK saja, bagiku aku telah kebanjiran wawasan yang tumpah ruah, apalagi dengan berkesempatan internship di Direktorat yang kebanyakan pekerjaannya di-handle langsung oleh para diplomat yang smart-smart, cekatan-cekatan dan santun-santun ini.

Again and again, mudah-mudahan semua oral experiences yang very valuable ini benar-benar menjadi tabungan yang orientatif bagi my future steps. Amiin.

Wednesday, August 20, 2008

Diplomasi Katalitik ::

Hari ini, ada Forum Debriefing di Gedung Utama, Deplu. Forum Debriefing adalah semacam forum progress report masa tugas para Duta Besar yang baru kembali ke tanah air dari tugas-tugas kenegaraannya di luar negeri.

Para Duta Besar tersebut adalah Dubes LBBP RI untuk Kerajaan Thailand, Dubes LBBP RI untuk Republik Federal Jerman, dan Dubes LBBP RI untuk Republik Persatuan Tanzania merangkap Republik Burundi, Republik Comorros dan Republik Rwanda.

Di antara ketiganya, aku sangat terkesan dengan pembawaan bersahaja Pak Makmur Widodo, Duta Besar LBBP RI untuk Republik Federal Jerman. Luar biasa, beragam dilema dan realita ironis hubungan Bilateral Indonesia-Jerman berhasil di-review oleh beliau dalam beberapa mind points yang mencengangkan namun tetap jujur.

Pak Widodo, sebagai seorang Duta Besar, tidak hanya menyampaikan substansi progress report masa tugas kenegaraannya, tapi lebih dari itu. Duta Besar yang pernah menjabat WATAPRI untuk New York ini juga memaparkan semangat Diplomasi Katalitik yang seolah menjadi falsafah kinerja diplomatik beliau selama ini. Beliau menyebutkan bahwa Diplomasi Katalitik ini adalah diplomasi total, di mana para pelaku diplomasi itu bukan hanya diplomat, tapi semua unsur Diplomasi Katalitik, yakni unsur pemerintah, swasta, akademisi, media, civil society dan kerjasama internasional.

Hingga Forum Debriefing ini selesai, aku masih penasaran dengan terma Diplomasi Katalitik tersebut. Saat break, aku segera meng-googling-nya. Ternyata, aku hanya temukan satu saja rujukan yang match dengannya. Dan tahukan anda? ternyata rujukan satu-satunya tersebut adalah situs milik Dharma Wanita Persatuan KBRI Berlin dalam wawancara dengan Pak Widodo. Hehe.

Aku memang sangat tertarik dengan konsep Diplomasi Katalitik ini, ketimbang misalkan, dengan gagasan diplomasi dan hubungan luar negeri yang bersemangatkan "rahmatan lil 'alamin" yang oleh Redaksi Jurnal Luar Negeri akan di-eksplore melalui tulisan Pak Quraisy Shihab di edisi mendatang. Karena dari beberapa perbincangan dengan Pak Sakidin, aku memandang bahwa gagasan diplomasi dan hubungan luar negeri yang bersemangatkan "rahmatan lil 'alamin" tersebut terlalu "mulia" dan cenderung kontroversial dengan realita diplomatik yang terbukti serba rasional dan sekian banyak berdasar pada "kepentingan".

Sebaliknya, kukira dengan konsep Diplomasi Katalitik ini, kinerja dan profesionalisme para pelaku misi-misi diplomatik kita akan lebih maksimal, fokus dan tidak lagi kebanyakan dilaksanakan langsung oleh para "pegawai negeri" yang sebutlah kurang menguasai suatu sektor tertentu. Dengan kata lain, ke depan, kedutaan besar akan benar-benar sepenuhnya menjadi semacam badan legalisasi yang menaungi dan memantau segala gerak-gerik berbagai pihak yang tercakup dalam unsur katalitik tersebut. Dan kesemua unsur tersebut bisa bergerak bebas sesuai dengan spesialisasi bidangnya sekaligus berperan juga sebagai aktor yang melaksanakan berbagai national policy di ranah internasional.

Tapi bagaimanapun, aku tentu belum sepenuhnya puas dengan asumsiku yang mungkin mentah atau bahkan salah ini. Karenanya, silahkan anggap asumsi ini sebagai penafsiran paling sederhanaku dari konsep Diplomasi Katalitik yang baru kuketahui sedemikian singkat ini. Mudah-mudahan saja aku bisa menemukan jalan untuk berkomunikasi langsung dengan Pak Widodo dalam waktu dekat, sehingga akan ada status yang jelas dari asumsiku kali ini. Hehe.

Sunday, August 17, 2008

Kabut Merdeka ::

Merdeka membahana
Bergema lantang di segenap kibar sangsaka
Bangsa yang sedang sakit pun serentak bersuka
Romantika Agustus memang barisan frasa euforia

"Aku ingin merdeka," ujarmu
"Agar hantu-hantu tak lagi terus menyerbu"
"Agar segala asa tak lagi sekedar semu"

Lalu keluh
Lalu kesah
Lalu kisah...

Hmm Cinta... Batinku mulai terinsak
Ingin, ingin sekali kurengkuh jiwa lelahmu
Ingin, ingin sekali kuraup keluh kesahmu
Tapi kutahu, di malam suka cita bangsa ini
Rengkuhanku tak akan kau rasakan sehangat biasanya
Raupanku tak akan kau rasakan sedamai biasanya
Bahwa Cinta, bahwa aku sedang kau rasa jauh...

Lalu sesal
Lalu ratap
Lalu risau...

"Sudahlah," hiburmu tetap berusaha menenangkanku
"Ayolah," bujukmu seolah meyakinkan bahwa kau selalu baik-baik
Dan aku, hanya terus tercekat
Tercekat atas kekanakanku yang purba dan kerap nista...

Lalu hening...

Ah Cinta... Batinku kian tercekat
Begitulah selalu budimu yang legawa
Meski gegap merdeka di langitmu sedang berkabut
Meski telah kulukiskan untukmu sketsa merdeka yang merana

***

[Serpong, 170808 - 00.54 am]

Friday, August 15, 2008

Doa dan Pengharapan di Jumat Awal Weekend ::

Pagi tadi, alhamdulillah, aku dan Krista, temanku peserta magang di BPPK, diperkenankan ikut serta Diskusi Terbatas yang digelar oleh BPPK dan Amerop di Ruang Nusantara Deplu. Diskusi ini adalah diskusi reguler yang off-the-record, pesertanya hanya pejabat Eselon I dan II di lingkungan Deplu. Jadi, aku tak akan berbagi di sini tentang apa-apa yang terkait dengan tema, substansi dan jalannya diskusi tadi.

Namun, ada satu hal yang lagi-lagi non-substantif yang kukira perlu aku share di sini. Menyimak diskusi ini benar-benar membuat aku menghayati bahwa setiap institusi memang ada dengan landasan "konstitusional"-nya masing-masing yang harus dipatuhi dan diperjuangkan seoptimal mungkin. Landasan inilah yang kemudian menjadi watak dan karakter dinamika para pelaku institusi tersebut. Hipotesa ini benar-benar kuhayati saat diskusi tadi. (Entah juga, kenapa aku jadi semakin sering berhipotesa begini...)

Belakangan ini, aku juga heran, ketekunanku untuk belajar all things related to Deplu, HI, etc, tiba-tiba bergeliat. Aku kok sedemikian betahnya membaca-baca segala informasi tentang ke-Deplu-an di berbagai sources. Aku juga kok tak lelah mempelajari ulang makalah Roundtable Discussion di Hotel Borobudur pekan lalu sepulangnya aku dari jam-jam magangku yang cukup melelahkan.

Di setiap kekosongan, otak usilku juga kerap rajin mereka-reka banyak hal yang mengusikku di jam-jam magangku, dari hal-hal yang terkait dengan pengayaan wawasan ke-Deplu-an sampai hal-hal yang out of topic. Seperti mengamati tingkah-polah para pejabat dan pegawai di Deplu dan mengambil pelajaran dari mereka. Atau bahkan sekedar mereka-reka berapa kira-kira dana operasional harian untuk aktivitas rutin yang harus dikeluarkan di instansi sebesar Deplu saat aku melewati satu persatu gedung-gedung di Deplu dan mengamati aktivitasnya, lalu kemudian membayang-bayangkan seberapa nominal lagi yang harus ditambahkan jika ada acara-acara penting yang sedemikian membludaknya di Deplu ini, lalu kemudian mengalikannya dengan sekian banyak instansi serupa di Republik ini, lalu finally membayang-bayangkan seberapa besar sebenarnya sirkulasi funding perhari di Republik kita yang sedang sakit ini?

Ah ya Allah, mudah-mudahan ke depan aku benar-benar bisa menjaga semangat dan ketekunanku yang "jarang-jarang" ini. Karena terus terang, sampai saat ini, masalah spesialisasi memang masih kurasakan sebagai permasalahan yang belum benar-benar final kuputuskan. Aku ingin semangatku untuk menggeluti ke-Deplu-an, HI, etc ini benar-benar menjadi starting point yang bisa kujaga ritmenya. Aku ingin beberapa close involvement-ku di Deplu ini benar-benar menjadi sumbangan yang orientatif untuk cita-citaku. Aku ingin benar-benar menemukan dan memperjuangkan spesialisasiku, bukan hanya sekedar merasa menemukannya seperti yang selama ini beberapa kali kualami.

Ah ya Allah, semoga Kau dengar doa dan pengharapanku di Jumat awal weekend ini. Amiin.

Friday, August 08, 2008

yang Non-Substantif yang Very Valuable ::

Kemarin, aku, Eri dan Fredy, dua temanku sesama peserta magang di BPPK-Deplu ikut Roundtable Discussion yang digelar oleh P3K2 Asfasaf di Jawa Room, Hotel Borobudur. Diskusi Terbatas kali ini bertemakan: "The Implementation of Enlargement, Docking and Merging as a Process of Establishing FTAAP and Its Consequences for Indonesia".

Dengan menjadi pengamat dan pendengar setia saja di Diskusi Terbatas ini, aku masih tetap merasa mendapatkan banyak hal. Setidaknya, kecendrungan pola pikir dan corak dinamika Deplu semakin akrab kukenal.

Meski nalarku terhadap tema yang sedang diangkat masih terbata-bata, aku masih tetap menikmati penampilan para pembicara yang menurutku absolutely smart. Di antara para pembicara, aku lebih cenderung terkesan dengan penampilan Hadi Soesastro, Sang Excutive Director-nya CSIS dan Dubes Soemadi D.M Brotodiningrat yang sekarang aktif sebagai Expert di APEC. Bagiku, keduanya benar-benar lively described their long-involvement on APEC case kemarin.

Terlepas dari hal-hal yang substantif, semisal kegagahan dan ketangkasan keduanya dalam pemaparan masing-masing materi mereka seputar APEC dan nowadays's situation-nya, FTAAP (Free Trade Area of the Asia Pasifik) sebagai agenda capaian masa panjangnya APEC, pelaksanaan penguatan REI (Regional Economic Integration), ECOTECH dalam Kerangka FTAAP, dan lain-lain, beliau berdua di mataku memang multi inspiring. Meski mereka sedang berbicara terkait topik tertentu, I think they still also taught me many inspiring things yang tak hanya sebatas topik tersebut. (Yah, walau mungkin hanya orang yang sedang gandrung berguru hal-hal yang non-substantif seperti aku saja yang merasakannya kemarin..)

Selesai Roundtable Discussion, kami kembali ke kantor. Kata Pak Wahyu aku dicari Pak Sakidin. Siapa sangka, saat menemui Pak Sakidin aku mendapat lebih banyak lagi hal-hal yang non-substantif lainnya. Jika keikut-sertaanku di Roundtable Discussion tadi kuanggap sebagai ajang penyerapan dan penalaran fenomena dengan logika seadaku, maka saat berbincang dengan Pak Sakidin, hipotesa-hipotesa hasil penalaran dan penyerapanku tersebut, khususnya tentang kecendrungan pola pikir dan corak dinamika Deplu, mendapat pembenaran, sanggahan ataupun pelurusan dari beliau.

Dan Pak Sakidin ternyata membawa berita baik juga, kata beliau, hari Selasa besok aku akan dipertemukannya dengan Direktur Hukum, salah satu unsur pimpinan di Ditjen HPI. Kemungkinan aku bisa berkesempatan belajar juga di sana... (Hmm semoga. Semoga akan ada hal-hal yang lebih inspiring lagi ke depan...)

Sungguh, aku benar-benar bersyukur di rentang ini. Aku bahagia. Karena paling tidak, setelah liburan Summer ini aku akan kembali ke Cairo dengan struggle frame yang lebih fokus. Dalam bayanganku, starting point yang kutemukan sekarang seolah memaparkan sebuah skenario yang "adil", di mana dengan skenario ini aku tetap bisa memperjuangkan cita-cita lamaku, sembari terus melakoni takdir spesialisasiku yang sekarang tanpa mendzaliminya.

Di tengah kesyukuran ini, aku ingin menyampaikan unfinished love dan terima kasihku untuk my beloved ones, for all your warm love and suppport. Sungguh, tanpa kalian, kering sekali perjuangan ini.

Terima kasihku tak henti juga kuhaturkan untuk K'Faiz, seniorku di Blawgsphere yang mau berbaik hati meluangkan waktunya di sela-sela kesibukan tesis dan persiapan konferensinya untuk membantuku dalam proses pendaftaran magang ini, K'Faiz jugalah yang sebenarnya melontarkan ide magang di Deplu ini sekaligus memancing keberanianku untuk mencoba apply. What you ever gave me is too much, Bro! That's a really influencing pillar for my future steps...

Terima kasih juga untuk Pak Dubesku yang terhormat. Sungguh, aku bahkan masih merasa berkhianat dengan beliau karena tragedi pahit 5 Juli lalu. Terima kasih Pak, terima kasih atas dukungan besar Bapak untuk hal yang sungguh besar ini. Aku tahu kekecewaan Bapak atas tragedi pahit itu, semuanya benar-benar menjadi peringatan keras bagiku...

Juga terima kasih untuk Pak Danang. Terima kasih Pak, terima kasih atas bantuannya yang banyak. Terima kasih telah membimbing. terima kasih telah sangat support. Terima kasih atas a very smart concept...

Thursday, August 07, 2008

Duh, Posesif! ::

Duh, posesif!
Penyakit paling kronisku
Tak suka, sungguh tak suka ia kambuh lagi

Prosesif itu naif
Membungkam rasionalitas
Menyiksa diri dan orang lain

Posesif itu racun
Menghambat segala karya
Merusak kenyamanan

Posesif itu Penjara Cinta
Penjara mengerikan
Aku ingin sembuh, tak ingin cintaku minus etika

***

[Pejambon, 070808 - 6.50 AM]

Wednesday, August 06, 2008

Still, There is No Problem at All with Your Existence as Law Student! ::

Tadi, saat searching data untuk keperluan administratif Jurnal Luar Negeri, tak sengaja aku terdampar di website Deplu Junior. Kemasan kekanakannya yang memanjakan membuatku betah berlama-lama. Lumayan, refresh sedikit dari kejenuhan.

Aku pun membaca-baca biografi sederhana semua sosok yang pernah menjabat Menlu di Indonesia, mulai dari Mr. Ahmad Soebardjo Djojoadisurjo, Menlu pertama RI, sampai DR. Hassan Wirajuda, Menlu yang sekarang.

Aku agak surprised saat menemukan kebanyakan sosok-sosok tersebut ternyata merupakan alumni hukum dari beberapa universitas terkemuka di dunia. Sebutlah Mr. Ahmad Soebardjo Djojoadisurjo, Mr. Alexander A. Maramis dan Mr. Soenario, para mantan Menlu yang ternyata berlatar-belakang pendidikan hukum dari Universitas Leiden, Belanda. lalu juga Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja dan DR. Hassan Wirajuda, mantan Menlu dan Pejabat Menlu saat ini yang berlatar pendidikan hukum dari Harvard Law School. Ditambah lagi Sutan Sjahrir, yang mengenyam pendidikan hukum dari Universitas Amsterdam, Belanda, Ali Alatas dari FH-UI dan Dr. Ida Anak Agung Gde Agung yang mendapatkan gelar hukumnya di Jakarta.

Di jeda itu, aku refleks teringat perbincanganku dengan sahabatku Aad, mahasiswa HI-UGM di masa-masa aku sedang terguncang karena tak bisa masuk HI-UI beberapa tahun silam. Benar kata sahabatku itu, karir diplomatik memang tidak mutlak harus diperoleh dari jurusan HI. Semakin kita mendalam di jurusan-jurusan yang masih terkait erat dan relevan dengan dinamika Deplu, semakin kita akan memiliki spesifikasi kecakapan. Dan ini tentu nilai tambah. Karena tokh siapapun yang berniat membangun karir di Deplu, tentu harus melewati satu pintu: CPNS-Deplu. Dan lagi-lagi, bukan hanya mahasiswa-mahasiswa HI yang berhak mencoba melempar umpan lewat pintu tersebut. Bukan begitu, rekans?

Tuesday, August 05, 2008

Pelangi dari Jauh ::

Aku kangen Cairo, kangen dinamikanya. Kemarin, lama aku terhanyut membuka-buka milis sentral Masisir. Heran, biasanya aku muak saat melihat perdebatan-perdebatan yang menurutku banyak yang kontraproduktif di milis ini. Tapi saat fisikku jauh dari Cairo seperti ini, aku justeru melihat itu semua sebagai pelangi yang mengharukan, pelangi kritisme mahasiswa, kritisme teman-teman seperjuanganku sendiri.

Pagi ini pun, kangenku dengan dinamika Summer di Cairo masih juga meluap-luap. Di puncak Musim Panas begini, Masisir tentu sedang sangat sibuk dengan agenda tahunannya yang besar: Pemilihan Presiden PPMI, sebuah agenda puncak demokrasi Masisir.

Lalu refleks, insting kangenku membimbingku untuk bertandang ke beberapa web-page Capres-Cawapres Presiden PPMI tahun ini. Benar rupanya yang disinggung beberapa temanku, tiga pasangan Capres-Cawapres ini memang sosok-sosok yang tak asing di belantika PPMI, mereka rata-rata kakak kelasku. Satu pasangan bahkan seniorku di Senat yang setahun terakhir sepak-terjangnya memang tergolong besar di PPMI.

Diam-diam aku berdoa, semoga Masisir benar-benar mendapatkan pemimpin yang dewasa, yang bisa membawa Masisir ke arah yang lebih dewasa. Dewasa dalam pikiran, dewasa dalam sikap, dewasa menatap realitas.

(Ah Cairo, ah Masisir. Bahkan belum sebulan aku berjarak denganmu, aku sudah sedemikian kangen...)

Saturday, August 02, 2008

All about Hari-hari Pertama dan Hari Pertama ::

Tak terasa, sudah setengah bulan lebih kuhirup udara Indonesia. Di rentang ini, perasaanku masih campur-aduk dan naik turun. Aku masih tak henti-hentinya terkaget-kaget dengan alam realitas, alam yang sungguh berbeda dengan alam “mimpi”-ku di Cairo sana, alam “sebenar” yang tak lain adalah tempat di mana akan kusandarkan masa tuaku kelak bersama my beloved ones.

Memang, tak mudah untuk pulang dalam keadaan yang masih belum sepenuhnya pulih seperti ini. Tapi aku harus objektif. Proses dan agenda-agenda kepulanganku ini telah sekian lama kurencanakan dan kuupayakan. Sungguh tidak fair kalau aku harus menyia-nyiakan energi yang besar itu karena tragedi pahit 5 Juli lalu. Life must go on. There may be a lot of marvelous things that I will get from this returning. Mungkin beragam hikmah dari tragedi pahit itu akan kutemui dari kepulanganku kali ini.

Dan kemarin, 1 Agustus, hari pertamaku internship di Deplu. Senang sekali. Ada banyak keoptimisan baru dari rutinitas yang cukup melelahkan kemarin.

Tanggal 28 sebelumnya, aku bersama tujuh teman-teman peserta magang di unit Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan (BPPK) Deplu di-briefing oleh Pak Wahyu, PJ-Magang BPPK-Deplu. Dan tadi pagi, kami disambut oleh Bu Endang, Kabag Umum Sekretariat BPPK. Dalam sambutan beliau, ada banyak pesan-pesan penting yang menjadi warning keras bagi orang seperti aku; perempuan yang bercita-cita mencari jati diri di Deplu sejak bayi...

Usai memberikan sambutan hangatnya, Bu Endang pamit, dan lagi-lagi, kami di-handle oleh Pak Wahyu. Tibalah saat yang lumayan mendebarkan, PENEMPATAN. Dan, alhamdulillah, aku ditempatkan di Pejambon bersama tiga temanku yang lain dan beberapa teman peserta magang bulan lalu yang masih punya jatah magang juga bulan ini.

Saat ini, lokasi BPPK memang terpecah, P3K2 Aspasaf (Asia Pasifik), P3K2 Amerop (Amerika Eropa), dan P3K OI (Organisasi Internasional) ada di kawasan Megaria, hal ini karena gedung BPPK sedang dalam renovasi. Jadi terpaksa, sebagian teman-temanku harus ditempatkan di sana.

Ada banyak hal yang membuatku senang dan lega bisa ditempatkan di Pejambon. Antara lain kukira, dengan berada di kantor “sebenar” Deplu ini, aku bisa lebih menghayati ritme perkantorannya dengan utuh dan leluasa, aku bisa belajar lebih banyak tentang hal-hal yang non-substantif, yang tentu tak bisa ditemukan kalau aku tak sedang closely-involved seperti ini.

Kemarin, saat Pak Wahyu menyebutkan kalau untuk sementara aku akan diperbantukan di Jurnal Luar Negeri milik Deplu, ada perasaan was-was juga, agak khawatir kalau aku nanti hanya akan terus bergelut dengan dunia jurnalistik saja, dunia kebanyakanku selama ini. Tapi ternyata tidak sama sekali. Karena untuk urusan Jurnal ini, aku langsung berada di bawah koordinasi Pak Sakidin, seorang diplomat senior di Deplu yang notabene merupakan Pimpinan Redaksi Jurnal Luar Negeri ini. Tak kusangka, setelah berpanjang lebar berkenalan, aku langsung diajak drafting substansi Jurnal Luar Negeri ini. Sungguh, aku merasa sedang rapat redaksi empat mata dengan Pak Sakidin. Dan ini, benar-benar bukan rapat redaksi biasa bagiku, karena bakal substansinya tentu merupakan hal-hal yang kebanyakan baru bagiku. Mulai dari pantauan terhadap Lingkaran Konsentris yang rencananya akan ditulis oleh Dewi Fortuna Anwar, sang pakar Konsep Lingkaran Konsentris ASEAN itu. Lalu juga masalah gagasan Hubungan Luar Negeri dan Diplomasi yang bersemangatkan konsep “Rahmatan lil ‘Alamin” yang beberapa kali terlontar sendiri oleh Menlu, ini rencananya akan ditulis oleh Pak Quraisy Shihab. Lebih lanjut, rencananya akan ada juga tulisan Pak Marty Natalegawa, Wakil Tetap RI untuk PBB yang sedang rising star itu, juga akan ada tulisan Dino Pati Djalal, sang “Tangan kanan-nya SBY, lalu tulisan Ali Alatas, Sang Singa Tua Diplomat Indonesia, dll dll...

Kebayang kan?
Betapa berharganya momen rapat redaksi empat mata tersebut. Lebih-lebih, Pak Sakidin benar-benar mengajakku ikut berpikir. Aku jadi merasa bukan sedang menjadi asisten. Sungguh tinggi memang etika intelektual beliau, benar-benar merangsang yang muda untuk berkembang.

Dan satu lagi, Pak Sakidin juga akan mengupayakan agar aku juga bisa diperbantukan di Unit Hukum dan perjanjian Internasional (HPI) dan Unit Timur-Tengah, dua unit yang tak tersentuh oleh peserta magang di Deplu... Semoga, semoga.

Begitulah, hari-hari pertamaku di Indonesia dan hari pertamaku internship di Deplu yang bagiku begitu motivating. Di rentang ini, ada tiga hal ini yang kucatat baik-baik: Pertama: Bahwa bisa kembali menginjakkan kaki di tanah pertiwi ini benar-benar menyadarkanku untuk semakin berserius, jika aku memang ingin menjadi anak bangsa yang bisa melakukan sesuatu yang berarti bagi bangsa yang sedang sakit ini. Kedua: Bahwa pertemuanku dengan sosok-sosok tercinta sungguh membuatku well-stimulated, perjuangan untuk memenuhi harapan mereka masih begitu panjang, sungguh panjang. Dan terakhir: Aroma masa depan yang kurasakan saat pertama kali menginjakkan kaki di Deplu, benar-benar membakarku untuk mengejar mimpi lama itu, istajib ya Rabb...