Pagi ini, aku menghadiri Talk Show “Secangkir Kopi untuk Bangsaku” di University Club, UGM. Talk Show ini digelar dalam rangka ceremonial pembuka Konferensi Mahasiswa Indonesia yang dihadiri oleh berbagai mahasiswa Indonesia dari seluruh tanah air.
Talk Show ini berlangsung begitu impresif. Sebagai warming up, Jimly Asshiddiqie, sang mantan Ketua Mahkamah Konstitusi dan Guru Besar Hukum Tata Negara UI, memberikan keynote speech-nya. Dalam keynote speech yang juga ada sesi interaktifnya ini, aku temukan satu refleksi menarik.
Diakhir speech-nya yang sangat “konstitutif”, Pak Jimly bercerita tentang Plato dan kedua bukunya. Dalam buku Plato yang pertama, Republic, Plato ternyata sama sekali tidak menganggap hukum/sistem pemerintahan sebagai sesuatu yang penting dalam keberlangsungan suatu negara. Bagi Plato, kekuasaan suatu negara harus diberikan kepada para filsuf (baca: kaum intelektual). Yang di buku Republik ini disebut sebagai Konsep “The Philoshoper Kings”.
Tapi seiring dengan interaksi Plato dengan para pejabat Pemerintahan di zamannya. Plato mulai menyadari bahwa baik atau tidaknya keberlangsungan suatu negara itu tenyata tidak mutlak tergantung pada apakah pelaku pemerintah tersebut adalah para filsuf atau kaum intelektual, tapi lebih kepada apakah sistem pemerintahan dalam negara itu baik atau tidak. Maka kemudian, di buku keduanya, Laws, Plato menegaskan pentingnya hukum/sistem pemerintahan yang baik untuk keberlangsungan sebuah negara.
Pengkisahan tentang Plato dan kedua bukunya ini, khususnya buku yang pertama yang memaparkan konsep "The Philoshopher Kings", mengingatkanku dengan komunitasku di Mesir sana. Menurutku, latar belakang kebanyakan mahasiswa Indonesia Mesir yang kebanyakan dari Pesantren, serta iklim pendidikan Al-Azhar dan iklim dinamika mahasiswa yang terbentuk secara kultural di tengah-tengah komunitas mahasiswa Indonesia Mesir, lebih cenderung mencetak dan mengkondisikan intelektualitas penghuninya dari pada misalkan, mencetak kecakapan untuk menjadi pelaku institusi tertentu di tanah air.
Ini tentu logis bagi sebagian besar mahasiswa Indonesia yang mengenyam pendidikan di luar negeri, karena sebagian besar mahasiswa Indonesia Mesir memang belajar di fakultas yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan pengetahuan dan kecakapan institutif dalam negeri. Bahkan untuk jurusan Islamic Law and Jurisprudence yang memberikan kesempatan luas untuk belajar tentang hukum dan ilmu pemerintahan pun, realita yang sama tetap berlaku. Karena di beberapa mata kuliah yang membekali pengetahuan dan kecakapan institutif, semisal mata kuliah Hukum Tata Negara, mahasiswa Indonesia jurusan ini tentu justeru mengenyam pengetahuan dan kecakapan tata negara Mesir, bukan Indonesia.
Tapi dalam pandanganku, ada satu hal yang menjadi masalah dari realita serupa ini. Ketiadaan kecakapan dan pengetahuan institutif ini selanjutnya akan merepotkan para alumni Al-Azhar yang berkecendrungan untuk terjun ke profesi birokrat. Akibatnya, banyak alumni Al-Azhar yang terpaksa atau (bahkan) sengaja memilih untuk menggunakan Partai Politik sebagai kendaraan untuk sampai pada profesi birokrat tadi. Hal ini cenderung berakibat fatal menurutku, karena proses pencapaian karir birokrat yang serupa ini dalam banyak hal akan sewajah dengan konsep “The Philoshoper Kings” milik Plato yang diceritakan Pak Jimly tadi, dalam artian, akan ada banyak hal yang menjadi kendala bagi para alumni Azhar tersebut ketika melakoni peran institutif tersebut yang disebabkan oleh minimnya pengetahuan dan kecakapan institutif mereka. Sebab beberapa kali, telah kita temukan alumni/jebolan Al-Azhar, yang ketika berada dalam kursi kepemimpinan tertentu, bahkan dalam kursi tertinggi di negeri ini, memang pada kenyataannya kurang tepat untuk berada di posisi tersebut, karena kapasitas intelektualnya jauh lebih menonjol ketimbang pengetahuan dan kecakapan institutifnya…
Sebenarnya, aku ingin sekali meminta tanggapan langsung dari Pak Jimly tentang refleksiku ini. Sayangnya, saat sesi interaktif dengan pak Jimly dibuka di Talk Show tadi, aku belum menemukan konsep refleksi yang matang terkait cerita Pak Jimly tentang Plato dan kedua bukunya itu, tapi aku baru sekedar merasakan ada “sesuatu” yang perlu diungkap dan direfleksikan dari cerita tersebut. Karena memang, refleksi tentang cerita Plato dan kedua bukunya itu baru kemudian kutemukan muaranya ketika aku menceritakannya ulang dengan sahabatku beberapa jam setelah Talk Show ini usai. Mungkin aku akan meminta tanggapan Pak Jimly via email. Mudah-mudahan di-reply.
Dan rekans, impresifnya Talk Show ini bukan hanya berhenti pada sesi keynote speech-nya saja, tapi juga berlanjut saat Talk Show-nya. Kombinasi latar-belakang para pembicaranya benar-benar membuat Talk Show ini berlangsung cukup "gerah". DR. M. Budi Setiawan, salah satu deputi dari kementrian Pemuda dan Olah Raga hadir dari kalangan birokrat mewakili Adyaksa Dault, sang Menpora. Lalu dari kalangan akademisi, hadir Zainal Arifin Muchtar yang saat ini mengajar di UGM dan menjadi ketua komisi pemerhati Korupsi FH-UGM. Dan terakhir, dari kalangan politisi, hadir ketua DPRD Yogyakarta.
Di antara para pembicara, pemikiran Zainal Arifin Muchtar atau yang akrab disapa Mas Uceng memang banyak menggugah audiens. Tanpa kerikuhan, beliau mengkritik keras pola pikir mahasiswa yang kebanyakan masih senang “menempel” kepada pejabat pemerintahan. Menurut beliau, mahasiswa itu sepenuhnya harus bertindak sebagai pengawas dan oposan bagi pemerintah. Tidak seharusnya even-even mahasiswa dan pemuda harus diresmikan oleh pejabat. Sudah saatnya mahasiswa benar-benar mandiri dan benar-benar melepaskan dirinya dari cengkraman birokrat dan politisi. Sudah saatnya mahasiswa benar-benar menjadi kelas menengah antara “kelas bawah” dan “kelas atas”, yakni sebagai penerjemah keinginan “kelas bawah” terhadap “kelas atas”, sekaligus sebagai penerjemah birokratisasi “kelas atas” terhadap “kelas bawah”.
Lebih lanjut, beliau menyebutkan bahwa beliau akan lebih senang dan bangga jika kedua pembicara lainnya diundang semata karena semangat kepemudaannya, bukan karena latar belakang mereka sebagai birokrat ataupun politisi.
Sementara dengan ekspresi dan nada masing-masing, kedua pembicara lainnya mengimbangi penampilan Mas Uceng sekaligus dalam banyak hal membenarkan statemen-statemen Mas Uceng.
Demikian rekans, Talk Show ini benar-benar meninggalkan kesan yang mendalam bagiku. Setidaknya karena ini adalah pertama kalinya aku berada satu forum dengan rekan-rekan mahasiswa dalam negeri dan secara langsung menyaksikan pola pikir mereka. Semoga seperti kata Mas Uceng, semangat-semangat muda ini tak hanya sebatas kegemerlapan ide di forum, tapi juga kegarangan tindakan di dunia yang lebih real. Karena “kapal” sebenarnya bukan tercipta untuk dipajang di gemerlap dermaga, tapi justeru tercipta untuk tampil garang menerjang ombak di lautan.