Lalu beberapa hari kemudian, aku dikontak lagi dan langsung berkomunikasi dengan salah seorang wartawannya, Bang Selo Ruwandanu. Di sana aku baru sedikit mengerti jika aku dipilih untuk merepresentasikan mahasiswi Indonesia Mesir sekaligus merepresentasikan kalangan pegiat intelektual-akademik dari komunitas mahasiswa Indonesia di Mesir sini. Karena dari kalangan mahasiswa, yang dipilih adalah sosok yang merepresentasikan kalangan yang concern di bidang lain. Lalu aku pun sepakat bertemu esok harinya di Perpustakaan Al-Azhar untuk beberapa briefing dan kemudian akan langsung diwawancarai, seperti yang disebutkan sendiri oleh Bang Selo.
Ketika sampai di Perpustakaan Al-Azhar, aku pun berkenalan langsung dengan Bang Selo dan Bang Bayu, dua orang wartawan Trans7 yang kemudian baru kuketahui jika beliau berdua adalah tim liputan film dokumenter ASAL-USUL di Trans7, dan aku pun baru kemudian mendapatkan penjelasan jika ternyata aku di sini bukan akan diwawancarai, tapi lebih tepatnya akan di-audio-visualkan untuk salah satu babak di film dokumenter tersebut.
Saat itu aku antusias dan merasa mendapatkan kehormatan, sebab ini kupikir sangat positif dan sejalan dengan apa-apa yang menjadi concern-ku selama ini. Karena disebutkan jika yang akan di-expose adalah keseharianku plus aktivitas-aktivitasku di forum-forum Al-Azhar dan Cairo University, serta juga aktivitas dan rutinitasku di lingkungan keorganisasian Mahasiswa Indonesia Mesir.
Bang Selo pun lalu meminta deskripsi detail dari keseharianku dan aktivitas-aktivitas yang menghegemoni serta menonjol dariku, dan menjanjikan akan memberikan notifikasi lebih lanjutnya setelah itu.
Lalu malamnya, aku ditelpon oleh Bang Bayu. Di sana Bang Bayu kemudian menyampaikan bahwa setelah mempelajari aktivitasku yang banyak meniscayakan personalisasi di tempat-tempat yang membutuhkan birokrasi panjang, dan setelah beberapa hari bersentuhan langsung dengan realita birokrasi di Mesir yang terbukti sangat berbelit, serta juga mengingat segala keterbatasan waktu dari pihak Trans7 sendiri, beliau kemudian menyampaikan bahwa dengan sangat menyesal pihak mereka meng-cansel permintaan pihak mereka untuk menggarap personalisasi sosok dan aktivitasku dalam bagian film dokumenter tersebut.
Dan aku sepenuhnya langsung mengerti dengan kendala-kendala tersebut, serta juga sama sekali tidak menyesalkannya. Memang sangat tidak mungkin dengan waktu sesingkat ini dan di tengah banyaknya target pihak Trans7 yang lebih mendesak dan prioritas, personalisasi sosok dan aktivitasku itu akan tergarap.
Hanya aku langsung tercenung panjang saat itu. Aku refleks teringat film-film yang tergarap dari novel-novel fenomenal yang kerap “gagal” meng-cover dan menyajikan kekhasan dan khazanah novel-novel tersebut dalam bentuk audio- visualnya. Di sini aku mulai mengerti jika tuntutan pasar yang cenderung “nge-pop” dan realita bahwa tidak semua hal bisa di-audio-visualkan dengan sense serupa aslinya, bukanlah alasan mutlak pereduksian substansi novel-novel tersebut ke dalam format yang cenderung berlama-lama di hal-hal yang tidak substantif dan “nge-pop”, tapi juga realita teknis lain yang memang terbukti banyak menghambat dan memberatkan, seperti halnya masalah kegagalan pengambilan setting yang seharusnya sesuai dengan skenario aslinya.
Ayat-ayat Cinta misalkan, terlalu banyak hal-hal yang tereduksi dari substansi inti novelnya ketika kita menikmati dan menyaksikannya di format audio-visualnya. Menurutku, di samping hal-hal lain, setting film yang “terpaksa” bukan di tempat setting sebenar dari novelnya telah sangat mempengaruhi pereduksian banyak ruh dan sense yang sebenarnya bisa dirasakan dengan sempurna ketika ia diaudio-visualkan sesuai setting aslinya.
Lebih jauh, aku juga semakin tercenung mengingat-ingat minimnya penayangan film dokumenter yang bernuansa “biografis” di stasiun-stasiun televisi kita. Padahal, film-film seperti ini tentu akan sangat mendidik dan inspirasional bagi masyarakat kita dengan lebih tajam dan mengena, karena ia akan membius dan menginspirasi pemirsanya dengan totalitas personalisasi karakter dan spesialisasi aktornya. Hal ini begitu kurasakan ketika menonton film dokumenter Derrida beberapa bulan lalu, meski aku bukan orang yang concern di bidang Filsafat, tapi aku sedemikian tersentuh menonton mozaik-mozaik yang menggambarkan keseharian dan aktivitas intelektual Derrida yang sedemikian menunjukkan penjiwaan dan concern-nya terhadap Filsafat. Lalu bayangkan jika yang kutonton adalah film dokumenter Condoleezza Rice atau Ali Alatas, tentu aku akan jauh lebih terinspirasi dan menggelegak setelah menontonnya : )
Tapi lagi-lagi, semua itu memang akan selalu kembali kepada diskursus antara idealisme media, tuntutan pasar, dan realita kecilnya antusiasme pihak-pihak terkait dalam mendukung upaya media untuk memproduksi program-program substantif, inspirasional, dan tidak tereduksi jika ia teraudio-visualkan dari novel seperti film Ayat-ayat Cinta tadi.


